RUKUN ISLAM


Dzikir-dzikir Setelah Shalat Wajib

Keutamaan Berdzikir
Di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah diterangkan tentang keutamaan berdzikir kepada Allah, baik yang sifatnya muqayyad (tertentu dan terikat) yaitu waktu, bilangannya dan caranya terikat sesuai dengan keterangan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, tidak boleh bagi kita untuk menambah atau mengurangi bilangannya, atau menentukan waktunya tanpa dalil, atau membuat cara-cara berdzikir tersendiri tanpa disertai dalil baik dari Al-Qur`an ataupun hadits yang shahih/hasan, seperti berdzikir secara berjama’ah (lebih jelasnya lihat kitab Al-Qaulul Mufiid fii Adillatit Tauhiid, Al-Ibdaa’ fii Kamaalisy Syar’i wa Khatharul Ibtidaa’, Bid’ahnya Dzikir Berjama’ah, dan lain-lain).
Atau dzikir-dzikir yang sifatnya muthlaq, yaitu dzikir di setiap keadaan baik berbaring, duduk dan berjalan sebagaimana diterangkan oleh ‘A`isyah bahwa beliau berdzikir di setiap keadaan (HR. Muslim). Akan tetapi tidak boleh berdzikir/menyebut nama Allah di tempat-tempat yang kotor dan najis seperti kamar mandi atau wc.
Diantara ayat yang menjelaskan keutamaan berdzikir adalah:

1. Firman Allah,
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ
“Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah:152)

2. Firman Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (Al-Ahzaab:41)

3. Firman Allah, “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar/jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bershadaqah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzaab:35)

4. Firman Allah,
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِين
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Al-A’raaf:205)

Adapun di dalam As-Sunnah, Diantaranya:
1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Permisalan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir kepada Allah adalah seperti orang yang hidup dan mati.” (HR. Al-Bukhariy no.6407 bersama Fathul Bari 11/208 dan Muslim 1/539 no.779)
Adapun lafazh Al-Imam Muslim adalah,

مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِيْ يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ وَالْبَيْتِ الَّذِيْ لاَ يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Permisalan rumah yang di dalamnya disebut nama Allah dan rumah yang di dalamnya tidak disebut nama Allah adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.”

2. Dari ‘Abdullah bin Busrin radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam telah banyak atasku, maka kabarkan kepadaku dengan sesuatu yang aku akan mengikatkan diriku dengannya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ
“Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah.” (HR. At-Tirmidziy 5/458 dan Ibnu Majah 2/1246, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/139 dan Shahiih Sunan Ibni Maajah 2/317)

3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُوْلُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia mendapat satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. At-Tirmidziy 5/175, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/9 serta Shahiihul Jaami’ Ash-Shaghiir 5/340)

Dzikir-dzikir Setelah Salam dari Shalat Wajib

Diantara dzikir-dzikir yang sifatnya muqayyad adalah dzikir setelah salam dari shalat wajib. Setelah selesai mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri, kita disunnahkan membaca dzikir, yaitu sebagai berikut:

1. Membaca:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ
“Aku meminta ampunan kepada Allah (tiga kali). Ya Allah, Engkaulah As-Salaam (Yang selamat dari kejelekan-kejelekan, kekurangan-kekurangan dan kerusakan-kerusakan) dan dari-Mu as-salaam (keselamatan), Maha Berkah Engkau Wahai Dzat Yang Maha Agung dan Maha Baik.” (HR. Muslim 1/414)

2. Membaca:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ, اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
“Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menolak terhadap apa yang Engkau beri dan tidak ada yang dapat memberi terhadap apa yang Engkau tolak dan orang yang memiliki kekayaan tidak dapat menghalangi dari siksa-Mu.” (HR. Al-Bukhariy 1/255 dan Muslim 414)

3. Membaca:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
“Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan upaya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah dan kami tidak beribadah kecuali kepada Allah, milik-Nya-lah segala kenikmatan, karunia, dan sanjungan yang baik, tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, kami mengikhlashkan agama untuk-Nya walaupun orang-orang kafir benci.” (HR. Muslim 1/415)

4. Membaca:
سُبْحَانَ اللهُ
“Maha Suci Allah.” (tiga puluh tiga kali)

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
“Segala puji bagi Allah.” (tiga puluh tiga kali)

اَللهُ أَكْبَرُ
“Allah Maha Besar.” (tiga puluh tiga kali)
Kemudian dilengkapi menjadi seratus dengan membaca,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”
Barangsiapa mengucapkan dzikir ini setelah selesai dari setiap shalat wajib, maka diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan. (HR. Muslim 1/418 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada dua sifat (amalan) yang tidaklah seorang muslim menjaga keduanya (yaitu senantiasa mengamalkannya, pent) kecuali dia akan masuk jannah, dua amalan itu (sebenarnya) mudah, akan tetapi yang mengamalkannya sedikit, (dua amalan tersebut adalah): mensucikan Allah Ta’ala setelah selesai dari setiap shalat wajib sebanyak sepuluh kali (maksudnya membaca Subhaanallaah), memujinya (membaca Alhamdulillaah) sepuluh kali, dan bertakbir (membaca Allaahu Akbar) sepuluh kali, maka itulah jumlahnya 150 kali (dalam lima kali shalat sehari semalam, pent) diucapkan oleh lisan, akan tetapi menjadi 1500 dalam timbangan (di akhirat). Dan amalan yang kedua, bertakbir 34 kali ketika hendak tidur, bertahmid 33 kali dan bertasbih 33 kali (atau boleh tasbih dulu, tahmid baru takbir, pent), maka itulah 100 kali diucapkan oleh lisan dan 1000 kali dalam timbangan.”
Ibnu ‘Umar berkata, “Sungguh aku telah melihat Rasulullah menekuk tangan (yaitu jarinya) ketika mengucapkan dzikir-dzikir tersebut.”
Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana dikatakan bahwa kedua amalan tersebut ringan/mudah akan tetapi sedikit yang mengamalkannya?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Syaithan mendatangi salah seorang dari kalian ketika hendak tidur, lalu menjadikannya tertidur sebelum mengucapkan dzikir-dzikir tersebut, dan syaithan pun mendatanginya di dalam shalatnya (maksudnya setelah shalat), lalu mengingatkannya tentang kebutuhannya (lalu dia pun pergi) sebelum mengucapkannya.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud no.5065, At-Tirmidziy no.3471, An-Nasa`iy 3/74-75, Ibnu Majah no.926 dan Ahmad 2/161,205, lihat Shahiih Kitaab Al-Adzkaar, karya Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy 1/204)

Kita boleh berdzikir dengan tasbih, tahmid dan takbir masing-masing 33 kali dengan ditambah tahlil satu kali atau masing-masing 10 kali, yang penting konsisten, jika memilih yang 10 kali maka dalam satu hari kita memakai dzikir yang 10 kali tersebut.
Hadits ini selayaknya diperhatikan oleh kita semua, jangan sampai amalan yang sebenarnya mudah, tidak bisa kita amalkan.

Tentunya amalan/ibadah semudah apapun tidak akan terwujud kecuali dengan pertolongan Allah. Setiap beramal apapun seharusnya kita meminta pertolongan kepada Allah, dalam rangka merealisasikan firman Allah,
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (Al-Faatihah:4)

5. Membaca surat Al-Ikhlaash, Al-Falaq dan An-Naas satu kali setelah shalat Zhuhur, ‘Ashar dan ‘Isya`. Adapun setelah shalat Maghrib dan Shubuh dibaca tiga kali. (HR. Abu Dawud 2/86 dan An-Nasa`iy 3/68, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 2/8, lihat juga Fathul Baari 9/62)

6. Membaca ayat kursi yaitu surat Al-Baqarah:255

Barangsiapa membaca ayat ini setiap selesai shalat tidak ada yang dapat mencegahnya masuk jannah kecuali maut. (HR. An-Nasa`iy dalam ‘Amalul yaum wal lailah no.100, Ibnus Sunniy no.121 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahiihul Jaami’ 5/339 dan Silsilatul Ahaadiits Ash-Shahiihah 2/697 no.972)

7. Membaca:
اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Sebagaimana diterangkan dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua tangannya dan berkata, “Ya Mu’adz, Demi Allah, sungguh aku benar-benar mencintaimu.” Lalu beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu Ya Mu’adz, janganlah sekali-kali engkau meninggalkan di setiap selesai shalat, ucapan…” (lihat di atas):
“Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud 2/86 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahiih Sunan Abi Dawud 1/284)
Do’a ini bisa dibaca setelah tasyahhud dan sebelum salam atau setelah salam. (’Aunul Ma’buud 4/269)

8. Membaca:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, yang menghidupkan dan mematikan dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”
Dibaca sepuluh kali setelah shalat Maghrib dan Shubuh. (HR. At-Tirmidziy 5/515 dan Ahmad 4/227, lihat takhrijnya dalam Zaadul Ma’aad 1/300)

9. Membaca:
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.” Setelah salam dari shalat shubuh. (HR. Ibnu Majah, lihat Shahiih Sunan Ibni Maajah 1/152 dan Majma’uz Zawaa`id 10/111)
Semoga kita diberikan taufiq oleh Allah sehingga bisa mengamalkan dzikir-dzikir ini, aamiin.
Wallaahu A’lam.

Maraaji’: Hishnul Muslim, karya Asy-Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthaniy, Shahiih Kitaab Al-Adzkaar wa Dha’iifihii, karya Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy dan Al-Kalimuth Thayyib, karya Ibnu Taimiyyah.

(Dikutip dari link http://fdawj.atspace.org/awwb/th3/29.htm, Edisi ke-29 Tahun ke-3 / 17 Juni 2005 M / 09 Jumadil Ula 1426 H)

Sunnah-Sunnah Shalat

Diantara sunnah-sunnah shalat adalah
1. Do’a Istiftaah
2. Meletakkan (telapak) tangan kanan di atas (punggung) tangan kiri pada dada tatkala berdiri sebelum ruku’
3. Mengangkat kedua tangan dengan jari-jari rapat yang tebuka (tidak terkepal) setinggi bahu atau telinga tatkala takbir pertama, ruku’, bangkit dari ruku’, dan ketika berdiri dari tasyahhud awal menuju raka’at ketiga
4. Tambahan dari sekali tasbih dalam tasbih ruku’ dan sujud
5. Tambahan dari ucapan Rabbanaa walakal hamdu setelah bangkit dari ruku’
6. Tambahan dari satu permohonan akan maghfirah (yaitu bacaan Rabbighfirlii) Diantara dua sujud
7. Meratakan kepala dengan punggung dalam ruku’
8. Berjauhan antara kedua lengan atas dengan kedua sisi, antara perut dengan kedua paha dan antara kedua paha dengan kedua betis pada waktu sujud
9. Mengangkat kedua siku dari lantai ketika sujud
10. Duduk iftiraasy (duduk di atas kaki kiri sebagai alas dan menegakkan kaki kanan) pada tasyahhud awal dan Diantara dua sujud.
11. Duduk tawarruk (duduk pada lantai dan meletakkan kaki kiri di bawah kaki kanan yang tegak) pada tasyahhud akhir dalam shalat tiga atau empat raka’at
12. Mengisyaratkan dengan telunjuk pada tasyahhud awal dan tasyahhud akhir sejak mulai duduk sampai selesai tasyahhud
13. Mendo’akan shalawat dan berkah untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga beliau serta untuk Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan keluarga beliau pada tasyahhud awal
14. Berdo’a pada tasyahhud akhir
15. Mengeraskan (jahr) bacaan pada shalat Fajar (Shubuh), Jum’at, Dua Hari Raya, Istisqaa` (minta hujan), dan pada dua raka’at pertama shalat Maghrib dan ‘Isya`
16. Merendahkan (sirr) bacaan pada shalat Zhuhur, ‘Ashar, pada raka’at ketiga shalat Maghrib dan dua rakaat terakhir shalat ‘Isya`
17. Membaca lebih dari surat Al-Fatihah.
Demikian juga kita harus memperhatikan apa-apa yang tersebut dalam riwayat tentang sunnah-sunnah selain yang telah kami sebutkan. Misalnya, tambahan dari ucapan Rabbanaa walakal hamdu setelah bangkit dari ruku’ untuk imam, makmum, dan yang shalat sendiri, karena hal itu termasuk sunnah. Meletakkan kedua tangan dengan jari-jari terbuka (tidak rapat) pada dua lulut ketika ruku’ juga termasuk sunnah.

Penjelasan Sunnah-sunnah Shalat
Ketahuilah bahwa sunnah-sunnah shalat itu ada dua macam:
1. Sunnah-sunnah perkataan
2. Sunnah-sunnah perbuatan
Sunnah-sunnah ini tidak wajib dilakukan oleh orang yang shalat, tetapi jika ia melakukan semuanya atau sebagiannya maka ia akan mendapatkan pahala, sedangkan orang yang meninggalkan semuanya atau sebagiannya maka tidak ada dosa baginya, sebagaimana pembicaraan tentang sunnah-sunnah yang lain (selain sunnah shalat). Namun seharusnya bagi seorang mukmin untuk melakukannya sambil mengingat sabda Al-Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Al-Khulafaa` Ar-Raasyidiin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian.” (HR. At-Tirmidziy dari Al-’Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu)

Sunnah-sunnah dalam Shalat itu sebagai berikut:
1. Doa Istiftaah
Dinamakan do’a Istiftaah karena shalat dibuka dengannya.
Diantara doa istiftaah:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ
“Maha Suci Engkau Ya Allah dan Maha Terpuji, Maha Berkah Nama-Mu, Maha Tinggi Kemuliaan-Mu, dan tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Engkau.”
Makna Subhaanakallaahumma, “Saya mensucikan-Mu dengan pensucian yang layak bagi Kemuliaan-Mu, Ya Allah.”
Wabihamdika, ada yang mengatakan maknanya, “Saya mengumpulkan tasbih dan pujian bagi-Mu.”
Watabaarakasmuka, maknanya, “Berkah dapat tercapai dengan menyebut-Mu.”
Wata’aalaa jadduka, maknanya, “Maha Mulia Keagungan-Mu.”
Wa laa ilaaha ghairuka, maknanya, “Tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) di bumi maupun di langit selain-Mu.”
Boleh membaca do’a istiftaah dengan do’a yang mana saja yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mustahab (termasuk sunnah) jika seorang muslim melakukan doa istiftaah kadang dengan do’a yang ini, kadang dengan do’a yang itu, agar dia tergolong orang yang melakukan sunnah keseluruhannya (dalam masalah ini).
Diantara do’a-do’a istiftaah yang tersebut dalam riwayat adalah

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ
“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dengan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dengan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju yang putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahan-kesalahanku dengan air, es dan embun.”

2. Meletakkan (telapak) tangan kanan di atas (punggung) tangan kiri pada dada saat berdiri sebelum ruku’
Sebagaimana diterangkan dalam hadits Wa`il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu,
“Lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan yang kanan di atas tangan yang kiri.” (HR. Al-Imam Ahmad dan Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
إِنَّا مَعْشَرَ الأَنْبِيَاءِ أُمِرْنَا بِتَعْجِيْلِ فِطْرِنَا وَتَأْخِيْرِ سُحُوْرِنَا وَأَنْ نَضَعَ أَيْمَانَنَا عَلَى شَمَائِلِنَا فِي الصَّلاَةِ
“Sesungguhnya kami, kalangan para Nabi, telah diperintahkan untuk menyegerakan buka puasa kami, mengakhirkan sahur kami, serta agar kami meletakkan tangan kanan kami di atas tangan kiri dalam shalat.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang hasan dari Thawus secara mursal)

Dan masih ada lagi selain cara di atas sebagaimana di terangkan dalam berbagai riwayat. Namun dalam hal ini, pendapat yang terpilih dan rajih adalah meletakkan tangan di atas dada (yaitu tepat di dada, bukan di atas dada mendekati leher), atau yang mendekati dada yaitu di sekitar hati, wallaahu a’lam.
Asy-Syaikh Al-Albaniy menjelaskan bahwa meletakkan kedua tangan di dada inilah yang shahih di dalam sunnah, adapun selain itu riwayatnya dha’if atau laa ashla lahu (tidak ada asalnya), lihat kitab beliau Shifatu Shalaatin Nabiy shallallahu ‘alaihi wa sallam. (bersambung insya Allah). Wallaahu A’lam.

Pada edisi yang lalu telah dijelaskan do’a istiftaah dan meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri pada dada saat berdiri sebelum ruku’, sekarang akan dilanjutkan dengan sunnah-sunnah yang lainnya, yaitu:
3. Mengangkat kedua tangan dengan jari-jarinya yang rapat terbuka (tidak terkepal) setinggi bahu atau telinga tatkala takbir pertama, ruku’, bangkit dari ruku’ dan ketika berdiri dari tasyahhud awal menuju raka’at ketiga

Berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya dengan jari-jari yang rapat terbuka /tidak terkepal (dan tentunya menghadap ke kiblat).
Juga berdasarkan hadits Abu Humaid radhiyallahu ‘anhu, “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan setinggi kedua bahunya.” (HR. Abu Dawud)
Dan hadits Malik bin Huwairits, “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya hingga setinggi ujung kedua telinganya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Mengangkat kedua tangan adalah isyarat membuka hijab antara seorang hamba dengan Rabbnya, sebagaimana telunjuk mengisyaratkan ke-Esaan Allah ‘azza wa jalla.
Pada Hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau berdiri untuk shalat wajib maka beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangan beliau setinggi kedua bahunya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan seperti itu apabila telah selesai dari bacaannya dan hendak ruku’, demikian pula setelah mengangkat kepala dari ruku’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat tangannya sama sekali ketika duduk di dalam shalat. Apabila telah berdiri selesai melakukan dua sujud (maksudnya adalah dua raka’at), maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali mengangkat kedua tangannya sambil bertakbir. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidziy menshahihkannya).

4. Tambahan dari sekali dalam tasbih ruku’ dan sujud
Sesuai hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan tatkala ruku’, Subhaana rabbiyal ‘azhiim, sedangkan tatkala sujud, Subhaana rabbiyal a’laa. (HR. Abu Dawud)
Boleh juga ditambah dengan wabihamdih. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Yang wajib adalah satu kali, sedangkan batas minimal kesempurnaan adalah tiga kali dan maksimalnya sepuluh kali (bagi imam). Sebagaimana dikatakan oleh para ‘ulama, “Bagi imam, batas minimal kesempurnaan adalah tiga kali dan maksimalnya sepuluh kali.”
Boleh juga do’a yang lain seperti dalam hadits Abu Hurairah, bahwa di dalam sujudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan,

اللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ ذَنْبِيْ كُلَّهُ وَدِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَأَخِرَهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ وَسِرَّهُ
“Ya Allah, ampunilah bagiku dosaku semuanya, yang kecil maupun yang besar, yang awal maupun yang akhir, serta yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.” (HR. Muslim)
Atau memilih do’a yang lain, lihat Shifatu Shalaatin Nabiy shallallahu ‘alaihi wa sallam karya Asy-Syaikh Al-Albaniy.
Jika mau maka boleh berdo’a (dengan bahasa Arab) ketika sujud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Adapun ketika sujud, maka perbanyaklah do’a padanya, sebab sangat pantas dikabulkan bagi kalian (dengan keadaan seperti itu).” (HR. Muslim)
Ketahuilah bahwa tidak boleh membaca ayat atau surat Al-Qur`an saat ruku’ dan sujud karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya!! (HR. Muslim)

5. Tambahan dari ucapan Rabbanaa walakal hamdu setelah bangkit dari ruku’
Seperti menambahkan,

مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْئٍ بَعْدُ
“Sepenuh langit dan sepenuh bumi dan sepenuh semua yang Engkau kehendaki selain itu.” (HR. Muslim)
Jika mau maka boleh menambahkan lagi,

أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ
وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
“Pemilik pujian dan kemuliaan yang paling pantas untuk dikatakan oleh seorang hamba, semua kami hamba-Mu, Ya Allah, tidak ada penghalang terhadap apa yang Engkau berikan, tidak ada pemberi terhadap apa yang Engkau tahan, dan tidak dapat memberi manfaat selain daripada-Mu.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan Abu ‘Awanah)
Boleh juga tanpa wawu Rabbanaa lakal hamdu. (Muttafaqun ‘alaih)
Boleh mengucapkan do’a yang lain yang disebutkan dalam berbagai riwayat, lihat Shifatu Shalaatin Nabiy shallallahu ‘alaihi wa sallam.

6. Tambahan dari satu permohonan akan maghfirah di antara dua sujud
Yang wajib adalah satu kali sesuai riwayat Hudzaifah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan di antara dua sujud, Rabbighfirlii (Rabbku ampunkanlah aku!). (HR. An Nasa`iy dan Ibnu Majah)

7. Meratakan kepala dengan punggung dalam ruku’
Berdasarkan hadits ‘A`isyah, “Jika ruku’, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggikan kepalanya dan tidak pula menurunkannya, akan tetapi di antara itu.” (HR. Muslim)

8. Berjauhan antara kedua lengan atas dengan kedua sisi, antara perut dengan kedua paha dan antara kedua paha dengan kedua betis pada waktu sujud

9. Mengangkat kedua siku dari lantai ketika sujud
Berdasarkan hadits tentang sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merapatkan kedua siku ke lantai. (HR. Al Bukhariy dan Abu Dawud)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua sikunya dari lantai dan menjauhkannya dari dua sisinya sehingga tampak putih ketiaknya dari belakang. (Muttafaqun ‘alaih)

10. Duduk Iftiraasy (duduk di atas kaki kiri sebagai alas dan menegakkan kaki kanan) pada tasyahhud awal dan di antara dua sujud
Berdasarkan hadits riwayat ‘A`isyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan alas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. (HR. Muslim)
Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata, “Lalu duduk iftirasy untuk bertasyahhud, meletakkan kedua tangan di atas paha dengan jari-jari tangan kiri dibentangkan dan rapat menghadap Kiblat, sedangkan pada tangan kanannya maka anak jari dan jari manis dikepal, serta jari tengah dilingkarkan dengan ibu jari, lalu bertasyahhud dengan sirr, sementara telunjuk memberi isyarat tauhid.”

11. Duduk tawarruk (duduk dengan pantat menyentuh lantai dan meletakkan kaki kiri di bawah kaki kanan yang tegak) pada tasyahhud akhir dalam shalat tiga atau empat raka’at
Abu Humaid As-Sa’idiy berkata, “Jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk pada raka’at terakhir maka beliau memajukan kaki kirinya dan menegakkan yang lain (kanan) serta duduk dengan pantat menyentuh lantai.” (HR. Al-Bukhariy 2/828)
Dan dalam hadits Rifa’ah bin Rafi’ dijelaskan, “Lalu jika kamu telah duduk di pertengahan (akan selesainya) shalat maka thuma’ninahlah, rapatkan ke lantai paha kirimu lalu bertasyahhud.” (HR. Abu Dawud no.860)

12. Mengisyaratkan dengan telunjuk pada tasyahhud awal dan tasyahhud akhir sejak mulai duduk sampai selesai tasyahhud

13. Mendo’akan shalawat dan berkah untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga beliau serta untuk Nabi Ibrahim ‘alaihis sallam dan keluarga beliau pada tasyahhud awal

14. Berdo’a pada tasyahhud akhir
Berdasarkan hadits, “Lalu hendaklah ia memilih do’a yang dia suka.”
Banyak do’a-do’a setelah tasyahhud yang terdapat dalam berbagai riwayat, silahkan meruju’ kitab Shifatu Shalaatin Nabiy shallallahu ‘alaihi wa sallam.

15. Menjahrkan (mengeraskan) bacaan pada shalat Fajr, Jum’at, Dua Hari Raya, Istisqaa` (minta hujan) dan pada dua raka’at pertama shalat Maghrib dan ‘Isya`

16. Merendahkan (sirr) bacaan pada shalat Zhuhur, ‘Ashar, pada raka’at ketiga shalat Maghrib dan dua rakaat terakhir shalat ‘Isya`
Al-Imam Ibnu Qudamah berkata, “Telah disepakati akan mustahab-nya menjahrkan bacaan pada tempat-tempat jahr dan mensirrkan pada tempat-tempat sirr, serta kaum muslimin tidak berselisih pendapat tentang tempat-tempatnya. Atas dasar perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jelas pada penukilan ‘ulama khalaf dari ‘ulama salaf.”

17. Membaca lebih dari Al-Fatihah
Al-Imam Ibnu Qudamah berkata, “Membaca surat setelah Al-Fatihah adalah disunnahkan pada dua raka’at (awal) dari semua shalat, kita tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini.”

Sunnah-sunnah yang lain dalam Shalat
Termasuk sunnah, yaitu imam menjahrkan takbirnya dan pada saat mengucapkan tasmii’ (sami’allaahu liman hamidah), sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika imam takbir maka bertakbirlah kalian.”
Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika imam mengucapkan Sami’allaahu liman hamidah, maka ucapkanlah: Rabbanaa walakal hamdu.” (Muttafaqun ‘alaih)
Adapun makmum dan orang yang shalat sendiri, maka mereka mensirrkan kedua ucapan tersebut.
Disunnahkan mengucapkan ta’awwudz secara sirr, dengan mengucapkan A’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim, atau A’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wanafkhihi wanaftsih (aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk, dari semburannya, kesombongannya dan hembusannya). Lalu membaca basmalah dengan sirr (pelan), basmalah tidak termasuk Al-Fatihah, tidak pula surat-surat lainnya (kecuali pada surat An-Naml ayat 30, pent), namun basmalah merupakan satu ayat tersendiri yang berada di awal tiap surat kecuali At-Taubah.

Disunnahkan menulis basmalah di awal tiap kitab sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi Sulaiman dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta hendaklah diucapkan di tiap permulaan suatu pekerjaan, sebab ia dapat mengusir syaithan.
Ketika membaca Al-Fatihah disunnahkan untuk berhenti pada tiap ayat sebagaimana cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya, lalu mengucapkan aamiin (Ya Allah, kabulkanlah!) setelah diam sejenak agar diketahui bahwa kata aamiin bukan dari Al-Qur`an. Tidak boleh mengucapkan Rabighfirlii sebelum aamiin, karena tidak ada dalilnya. Imam dan makmum menjahrkan aamiin secara bersamaan pada shalat jahr, setelah itu disunnahkan bagi imam untuk diam sejenak pada shalat jahr berdasarkan hadits Samurah.

Disunnahkan membaca satu surat secara utuh setelah Al-Fatihah (dari awal sampai akhir ayat dalam satu surat) walaupun boleh hanya membaca satu ayat, yang menurut Al-Imam Ahmad mustahab (sunnah/disukai) satu ayat tersebut panjang. Adapun di luar shalat, maka membaca basmalah boleh dengan jahr atau sirr.

Hendaklah surat yang dibaca pada shalat Fajr (Shubuh), surat yang termasuk dalam Thiwaal Al-Mufashshal (surat-surat panjang dari mufashshal), berdasarkan ucapan Aus, “Saya telah menanyakan kepada para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana kalian membagi Al-Qur`an?” Maka masing-masing mereka berkata, “Tiga bagian, lima, tujuh, sembilan, sebelas dan tiga belas, ditambah satu bagian Al-Mufashshal (yang dimulai dari surat Qaaf hingga An-Naas).”
Kemudian pada shalat Maghrib membaca Qishaar Al-Mufashshal (surat-surat pendek dari mufashshal). Adapun pada shalat-shalat yang lain, maka membaca Ausath Al-Mufashshal (yang sedang dari mufashshal) jika tidak ada ‘udzur/halangan, namun jika ada halangan maka membaca yang pendek saja.

Tidak mengapa bagi wanita membaca dengan jahr pada shalat jahr, selama tidak ada laki-laki ajnabiy (yang bukan mahram) yang mendengarkannya.

Adapun orang yang melakukan shalat sunnah di malam hari, maka hendaklah ia memperhatikan maslahat, jika di dekatnya ada orang yang merasa terganggu hendaklah ia sirrkan, adapun jika orang di dekatnya justru memperhatikan bacaannya maka hendaklah ia jahrkan. Tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu ketika shalat malam agar meninggikan sedikit suaranya dan memerintahkan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu agar menurunkan sedikit suaranya.
Hendaklah menjahrkan bacaan pada tempat jahr dan mensirrkannya pada tempat sirr, walaupun tetap sah shalatnya kalau ia melakukan kebalikannya, akan tetapi sunnah lebih berhak untuk diikuti. Adapun tertib ayat, maka wajib diperhatikan karena tertib ayat harus berdasarkan nash.

Termasuk sunnah, berpaling ke kanan dan kiri saat salam, dan hendaklah berpaling ke kiri lebih dalam hingga pipi terlihat. Imam menjahrkan pada salam pertama saja, adapun selain imam maka hendaklah mensirrkan kedua salam itu. Disunnahkan untuk tidak memanjangkan suara saat memberi salam serta berniat dengannya untuk keluar dari (mengakhiri) shalat dan memberi salam kepada malaikat penjaga dan orang-orang yang hadir.

Termasuk sunnah, setelah shalat imam (berbalik) condong ke makmum baik pada sisi kanan atau kirinya, imam tidak lama duduk menghadap Kiblat setelah salam, dan makmum tidak pergi sebelum imam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنِّيْ إِمَامُكُمْ فَلاَ تَسْبِقُوْنِيْ بِالرُّكُوْعِ وَلاَ بِالسُّجُوْدِ وَلاَ بِالإِنْصِرَافِ
“Sesungguhnya aku adalah imam kalian, maka janganlah mendahuluiku dalam ruku’, sujud dan pergi.”

Jika ada jama’ah wanita yang ikut shalat, maka hendaklah jama’ah wanita itu keluar terlebih dahulu, sedangkan jama’ah laki-laki tetap pada tempatnya untuk berdzikir agar tidak berpapasan dengan wanita.
Wallaahu A’lam.

Disadur dari Syarh Ad-Duruus Al-Muhimmah li ‘Aammatil Ummah, karya Asy-Syaikh Ibnu Baaz dan Shifatu Shalaatin Nabiy shallallahu ‘alaihi wa sallam karya Asy-Syaikh Al-Abaniy.

(Dikutip dari link http://fdawj.atspace.org/awwb/th3/27.htm dan http://fdawj.atspace.org/awwb/th3/28.htm, Bulletin Al Wala wal Bara Edisi ke-27 Tahun ke-3 / 03 Juni 2005 M / 25 Rabi’uts Tsani 1426 H dan Edisi ke-28 Tahun ke-3 / 10 Juni 2005 M / 02 Jumadil Ula 1426 H)
0 Komentar

Sebagai salah satu bentuk ibadah, shalat memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Pengertian syarat sendiri menurut ulama ilmu ushul adalah perkara yang keberadaan suatu hukum tergantung dengannya. Dalam arti, bila ia tidak ada maka pasti tidak ada hukum. Namun adanya perkara tersebut tidak mengharuskan adanya hukum. Contohnya, adanya wudhu sebagai suatu syarat dalam ibadah shalat tidak mengharuskan adanya shalat. Karena bisa jadi orang berwudhu bukan untuk shalat tapi untuk menjaga agar ia selalu di atas thaharah atau ia wudhu karena hendak tidur. Sebaliknya bila tidak ada wudhu (ataupun penggantinya) maka tidak sah shalatnya. Contoh lain, adanya dua saksi merupakan syarat sahnya suatu akad nikah. Namun adanya dua saksi tidak mengharuskan adanya akad nikah, sebaliknya bila tidak ada dua saksi tidak sah suatu pernikahan. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/396, Al-Mulakhkhashul Fiqhi, 1/86)

Setelah kita fahami makna syarat, maka kita masuk pada pembahasan syarat-syarat shalat1.

1. Sudah masuk waktu shalat

2. Suci dari hadats

3. Suci pakaian, badan, dan tempat shalat dari najis

4. Menutup aurat

5. Menghadap kiblat

6. Niat

1. Telah Masuk Waktu

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتَابًا مَوْقُوْتًا

“Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang ditetapkan waktunya bagi kaum mukminin.” (An-Nisa`: 103)

Dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak sekali kita dapatkan dalil tentang permasalahan ini. Kaum muslimin pun sepakat akan tidak sahnya shalat yang dikerjakan sebelum masuk waktunya. Bila seseorang shalat sebelum waktunya dengan sengaja maka shalatnya batil dan ia tidak selamat dari dosa. Namun bila tidak sengaja, dalam arti ia mengira telah masuk waktu shalat padahal belum, maka ia tidak berdosa. Shalatnya tersebut teranggap shalat nafilah (shalat sunnah) dan ia wajib mengulangi shalatnya setelah masuk waktunya. (Asy-Syarhul Mumti’ 1/398)

Perincian tentang waktu shalat akan kami bawakan dalam pembahasan tersendiri, insya Allah.

2. Suci dari Hadats

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوْهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوْسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak menegakkan shalat, basuhlah wajah kalian dan lengan kalian sampai siku, lalu usaplah kepala kalian dan cucilah kaki kalian sampai mata kaki. Dan jika kalian junub, bersucilah….” (Al-Ma`idah: 6)

Dalam ayat di atas ada perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang ingin shalat sementara mereka belum bersuci agar membasuh wajah dan tangan mereka sampai siku dengan menggunakan air, dan seterusnya dari amalan wudhu. (Jami’ul Bayan fit Ta`wil Ayil Qur`an, 4/50)

Al-‘Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu mengatakan bahwa dalam ayat yang agung ini terkandung banyak hukum. Di antaranya:

- Disyaratkannya thaharah untuk sahnya shalat, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berthaharah ketika hendak menunaikan shalat. Sementara, hukum asal suatu perintah adalah wajib.

- Thaharah tidak wajib dilakukan ketika telah masuk waktu shalat, namun thaharah hanya diwajibkan ketika seseorang ingin mengerjakan shalat.

- Seluruh amalan yang dinamakan shalat, baik shalat itu wajib atau nafilah, maupun shalat yang fardhu kifayah seperti shalat jenazah, disyaratkan thaharah sebelumnya. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 222)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Tidak diterima shalat seseorang yang berhadats hingga ia berwudhu.” (HR. Al-Bukhari no. 135 dan Muslim no. 536)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu memaknakan hadits di atas: “(Tidak diterima shalat seseorang yang berhadats) hingga ia bersuci dengan air atau tanah/debu. Dalam hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menyebut wudhu karena asal mula bersuci itu dengan wudhu (bila tidak ada air baru menggantinya dengan yang lain, –pent.) dan itu yang lebih banyak dilakukan. Wallahu a’lam.” (Al-Minhaj, 3/99)

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُوْرٍ …

“Tidak diterima shalat tanpa bersuci…” (HR. Muslim no. 534)

Hadits di atas merupakan nash yang menunjukkan wajibnya thaharah bila hendak mengerjakan shalat sementara ia dalam keadaan berhadats. Dan ulama sepakat bahwa thaharah ini merupakan syarat sahnya shalat. (Tharhut Tatsrib 2/400, 409, Al-Minhaj 3/98)

Hadats yang dimaksudkan dalam pembahasan di sini mencakup hadats besar seperti janabah dan hadats kecil seperti buang air besar, kencing, buang angin, dan sebagainya.

3. Suci Pakaian, Badan dan Tempat Shalat dari Najis

Dalil tentang sucinya pakaian didapatkan dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“Dan pakaianmu sucikanlah.” (Al-Mudatstsir: 4)

Sebagian ahlul ilmi menafsirkan ayat ini dengan: “Sucikanlah pakaianmu dari najis untuk mengerjakan shalat.” Adapun yang lainnya menafsirkan dengan selain makna ini. (Ma’alimut Tanzil 4/383, Adhwa`ul Bayan 8/619)

Dari As-Sunnah didapatkan banyak dalil, seperti hadits Asma` bintu Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ada seorang wanita bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ya Rasulullah, apa pendapatmu bila pakaian salah seorang dari kami terkena darah haid, apa yang harus diperbuatnya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda memberi bimbingan:

إِذَا أَصَابَ ثَوْبَ إِحْدَاكُنَّ الدَّمَ مِنَ الْحَيْضَةِ فَلْتُقْرِصْهُ ثُمَّ لِتَنْضَحْهُ بِمَاءٍ ثُمَّ لِتُصَلِّي فِيْهِ

“Apabila pakaian salah seorang dari kalian terkena darah haid, hendaklah ia mengeriknya kemudian membasuhnya dengan air. Setelah itu, ia boleh mengenakannya untuk shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 307 dan Muslim no. 673)

Kata Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullahu, dalam hadits ini terdapat isyarat dilarangnya shalat bila mengenakan pakaian yang terkena najis. (Fathul Bari, 1/532)

Demikian pula hadits tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas sandalnya ketika shalat, sebagaimana diberitakan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu:

بَيْنَمَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ، فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ. فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ. فَلَمَّا قَضَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَتَهُ قَالَ: مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَائِكُمْ نِعَالَكُمْ؟ قَالُوا: رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيْهِمَا قَذَرًا – أَوْ قَالَ: أَذًى -. وَقَالَ: إِذَا جاَءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ قَذَرًا أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيْهِمَا

Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat bersama shahabat-shahabat beliau, tiba-tiba beliau melepas kedua sandalnya2 lalu meletakkannya di sebelah kiri beliau. Ketika melihat hal tersebut, mereka (para shahabat) pun melepaskan sandal mereka. Selesai dari shalat, Rasulullah bertanya, “Ada apa kalian melepaskan sandal-sandal kalian?” Mereka menjawab, “Kami melihatmu melepas sandalmu maka kami pun melepaskan sandal-sandal kami.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, “Tadi Jibril mendatangiku dan mengabarkan bahwa pada kedua sandalku ada kotoran/najis, maka akupun melepaskan keduanya.” Beliau juga mengatakan, “Apabila salah seorang dari kalian datang ke masjid, sebelum masuk masjid hendaklah ia melihat kedua sandalnya. Bila ia lihat ada kotoran atau najis maka hendaklah membersihkannya. Setelah bersih, ia boleh shalat dengan mengenakan kedua sandalnya.” (HR. Abu Dawud no. 650 dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud, Irwa`ul Ghalil no. 284 dan Ashlu Shifati Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/110)

Mengenai kesucian badan maka tentunya lebih utama daripada sucinya pakaian yang dikenakan. Di samping ada pula hadits yang menunjukkan wajibnya membersihkan najis yang ada pada badan seperti hadits Anas radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَنَزَّهُوْا مِنَ الْبَوْلِ، فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ

“Bersucilah kalian dari kencing karena kebanyakan adzab kubur disebabkan kencing.” (HR. Ad-DaraQathani dalam Sunan-nya hal. 7, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa` no. 280)3

Demikian pula hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً فَكُنْتُ أَسْتَحْيِي أَنْ أَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ، فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ اْلأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: يَغْسِلُ ذَكَرَهَ ويَتَوَضَّأُ

“Aku seorang lelaki yang banyak mengeluarkan madzi, namun aku malu menanyakannya langsung kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebabkan keberadaan putri beliau (sebagai istriku). Maka aku menyuruh Al-Miqdad ibnul Aswad untuk menanyakannya. Ia pun bertanya kepada beliau, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan tuntunan, ‘Hendaklah ia mencuci kemaluannya kemudian berwudhu4’.” (HR. Al-Bukhari no. 132 dan Muslim no. 693)

Adapun dalil tentang kesucian tempat shalat adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِيْنَ وَالْعَاكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

“Bersihkanlah rumah-Ku (Baitullah) (wahai Ibrahim dan Ismail) untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’, dan yang sujud.” (Al-Baqarah: 125)

Demikian pula adanya perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyiram kencing A’rabi (Arab gunung/Badui) sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَامَ إِلَى نَاحِيَةِ الْمَسْجِدِ فَبَالَ فِيْهَا، فَصَاحَ بِهِ النَّاسُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعُوْهُ. فَلَمَّا فَرَغَ أَمَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَنُوْبٍ فَصُبَّ عَلَى بَوْلِهِ

Ada seorang A’rabi bangkit menuju ke pojok masjid lalu kencing di tempat tersebut. Melihat hal itu, orang-orang berteriak menghardiknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menegur, “Biarkan ia menyelesaikan kencingnya.” Seselesainya si A’rabi kencing, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar mengambil air satu ember penuh, lalu dituangkan di atas kencingnya.” (HR. Al-Bukhari no. 221 dan Muslim no. 658)

Bila seseorang melihat pada tubuh, pakaian atau tempat shalatnya ada najis setelah selesai shalatnya, apakah ia harus mengulangi shalatnya?

Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat. Namun yang rajih, wallahu a’lam, orang itu tidak wajib mengulangi shalatnya, baik keberadaan najis tersebut telah diketahuinya sebelum shalat tapi ia lupa, atau lupa mencucinya, ataupun ia tidak tahu bila najis itu terkena dirinya, atau ia tidak tahu kalau itu najis, atau ia tidak tahu hukumnya, atau ia tidak tahu apakah najis itu mengenainya sebelum shalat ataukah sesudah shalat. Pendapat ini yang dipilih oleh Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah, Al-Majdu, Syaikhul Islam, Ibnul Qayyim, dan selain mereka rahimahumullah. Dalilnya adalah kaidah umum yang agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala letakkan bagi hamba-hamba-Nya, yaitu firman-Nya:

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau keliru….” (Al-Baqarah: 286)

Dan juga hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melepas sandal beliau dalam shalatnya setelah Jibril ‘alaihissalam mengabarkan bahwa pada sandalnya ada kotoran/najis. Beliau tidaklah membatalkan shalatnya, namun melanjutkannya setelah melepas kedua sandalnya. (Al-Mughni, kitab Ash-Shalah fashl Man Shalla Tsumma Ra`a ‘Alaihi Najasah fi Badanihi au Tsiyabihi, Asy-Syarhul Mumti’ 1/485, Al-Mulakhkhashul Fiqhi, 1/94, Taudhihul Ahkam 2/33)

4. Menutup Aurat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

“Wahai anak Adam kenakanlah zinah5 kalian setiap kali menuju masjid.” (Al-A’raf: 31)

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu berkata: “Mereka diperintah untuk mengenakan zinah ketika datang ke masjid guna melaksanakan shalat atau thawaf di Baitullah. Ayat ini dijadikan dalil untuk menunjukkan wajibnya menutup aurat di dalam shalat. Demikian pendapat yang dipegangi oleh jumhur ulama. Bahkan menutup aurat ini wajib dalam segala keadaan, sekalipun seseorang shalat sendirian sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih.” (Fathul Qadir, 2/200)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu menyatakan, “(Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat di atas adalah) perintah untuk mengenakan zinah setiap kali ke masjid, yang dinamakan oleh para fuqaha: bab Sitrul ‘Aurah fish Shalah (bab Menutup aurat dalam shalat).” (Hijabul Mar`ah wa Libasuha fish Shalah hal. 14)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menerangkan sebab turunnya ayat di atas, “Dulunya di masa jahiliah, wanita biasa thawaf di Ka’bah dalam keadaan tanpa busana. Yang tertutupi hanyalah bagian kemaluannya. Ia thawaf seraya bersyair:

Pada hari ini tampak tubuhku sebagiannya atau pun seluruhnya

Maka apa yang nampak darinya tidaklah aku halalkan.

Lalu turunlah ayat di atas.” (HR. Muslim no. 7467)

Al-Imam Al-Baghawi rahimahullahu dalam tafsirnya terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas menyatakan, “Yang dimaksud dengan zinah adalah pakaian. Mujahid berkata, ‘(Zinah adalah) apa yang menutupi auratmu walaupun berupa ‘aba’ah.’ Al-Kalbi berkata, ‘Zinah adalah apa yang menutupi aurat setiap kali ke masjid untuk thawaf dan shalat’.” (Ma’alimut Tanzil, 2/157)

Dulunya orang-orang jahiliah thawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang. Mereka melemparkan pakaian mereka dan membiarkannya tergeletak di atas tanah terinjak-injak oleh kaki orang-orang yang lalu lalang. Mereka tidak lagi mengambil pakaian tersebut untuk selamanya, hingga usang dan rusak. Demikian kebiasaan jahiliah ini berlangsung hingga datang Islam dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan mereka untuk menutup aurat: “Wahai anak Adam, kenakanlah zinah kalian setiap kali menuju masjid.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ عُرْياَنٌ

“Tidak boleh orang yang telanjang thawaf di Ka’bah.” (HR. Al-Bukhari no. 369, 1622 dan Muslim no. 3274) [Lihat Al-Minhaj 18/357]

Hadits di atas selain dibawakan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya, kitab Al-Hajj bab Tidak boleh orang yang telanjang thawaf di Baitullah dan tidak boleh orang musyrik melaksanakan haji, dibawakan pula oleh beliau dalam kitab Ash-Shalah, bab Wajibnya shalat dengan mengenakan pakaian.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullahu dalam penjelasannya terhadap hadits di atas menyatakan: “Sisi pendalilan hadits ini dengan judul bab yang diberikan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu (bab Wajibnya shalat dengan mengenakan pakaian) adalah apabila dalam thawaf dilarang telanjang, maka larangan hal ini di dalam shalat lebih utama lagi. Karena apa yang disyaratkan di dalam shalat sama dengan apa yang disyaratkan di dalam thawaf, bahkan dalam shalat ada tambahan. Dan jumhur berpendapat menutup aurat termasuk syarat shalat.” (Fathul Bari, 1/604)

Faedah

Perlu diperhatikan di sini, menutup aurat di dalam shalat tidaklah cukup dengan berpakaian ala kadarnya yang penting menutup aurat, tidak peduli pakaian itu bau dan kotor misalnya. Namun perlu memerhatikan sisi keindahan dan kebersihan. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya memerintahkan untuk mengenakan zinah (pakaian sebagai perhiasan) ketika shalat, sebagaimana dalam ayat di atas. Sehingga sepantasnya seorang hamba shalat dengan mengenakan pakaiannya yang paling bagus dan paling indah, karena dia akan ber-munajat dengan Rabb semesta alam dan berdiri di hadapan-Nya. (Al-Ikhtiyarat Ibnu Taimiyyah rahimahullahu hal. 43)

Bedanya Menutup Aurat di Dalam dan di Luar Shalat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata, “Mengenakan zinah di dalam shalat merupakan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga tidak boleh bagi seseorang untuk thawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang walaupun bersendiri di waktu malam. Tidak boleh pula ia shalat dalam keadaan telanjang walaupun sendirian. Maka mengenakan zinah dalam shalat bukanlah untuk berhijab (menutup tubuh) dari manusia tapi menunaikan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian, menutup aurat di luar shalat dibedakan dari menutup aurat di dalam shalat. Kita dapatkan seseorang yang shalat menutup bagian tubuhnya yang justru boleh tampak bila ia sedang tidak shalat (di luar shalat)6. Sebaliknya ia menampakkan dalam shalatnya apa yang justru harus ditutupnya di luar shalat7. (Hijabul Mar`ah wa Libasuha fish Shalah hal. 23)

Sebenarnya memang yang diperintahkan dalam shalat adalah berhias dan berpenampilan bagus karena hendak berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila seseorang merasa malu bertemu dengan seorang raja atau salah seorang pembesar di muka bumi ini dengan pakaian kotor, bau, kusut masai, atau terbuka separuh tubuhnya, lalu bagaimana ia tidak malu berdiri di hadapan Raja Diraja Penguasa alam semesta Subhanahu wa Ta’ala dengan pakaian yang tidak patut dikenakannya ketika shalat? Karena itulah Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah bekata kepada maulanya, Nafi’, yang shalat dalam keadaan tidak menutup kepala (dengan peci dan semisalnya), “Tutuplah kepalamu! Apakah engkau biasa keluar ke hadapan manusia dalam keadaan membuka kepalamu?” Nafi’ menjawab, “Tidak pernah.” “Allah adalah Dzat yang lebih pantas untuk engkau berhias bila hendak menghadap-Nya”, kata Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Syarh Ma’anil Atsar, 1/377)

Dengan demikian, semakin fahamlah kita bahwa yang sebenarnya dituntut dalam shalat bukan sekedar menutup aurat, tapi mengenakan zinah. Seseorang yang hendak shalat dituntut agar berada dalam penampilan yang bagus dan indah, karena ia akan berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Adz-Dzakhirah lil Qarafi 2/102, Al-Mulakhkhashul Fiqhi 1/93)

Hukum Menutup Pundak bagi Laki-laki di Dalam Shalat

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يُصَلِّي أَحَدُكُمْ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى عَاتِقَيْهِ شَيْءٌ

“Tidak boleh seorang lelaki di antara kalian shalat dengan hanya mengenakan satu kain sementara tidak ada di atas pundaknya sedikitpun dari kain tersebut8.” (HR. Al-Bukhari no. 359 dan Muslim no. 1151)

Dalam hadits di atas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan bimbingan kepada orang yang shalat dengan mengenakan satu kain saja tanpa ada pakaian lain, agar tidak mengikat kainnya pada bagian tengah tubuhnya sehingga dua pundaknya dibiarkan terbuka. Tapi hendaknya ia berselubung dengan kain tersebut, dua ujung kainnya diangkat lalu disilangkan dan diikatkannya di atas pundaknya, sehingga kain tersebut keberadaannya seperti izar dan rida`. Hal ini mungkin dilakukan bila kainnya lebar/lapang. Namun bila sempit maka terpaksa diikatkan pada pinggang sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

فَإِنْ كَانَ وَاسِعًا فَلْتَحِفْ بِهِ وَإِنْ كَانَ ضَيِّقًا فَاتَّزِرْ بِهِ

“Bila kainmu lebar berselimutlah dengannya (menutupi tubuh bagian bawah dan atas dengan disilangkan dua ujungnya di atas dua pundak) namun bila kainmu sempit ikatkanlah pada setengah tubuhmu yang bagian bawah9.” (HR. Al-Bukhari no. 361) [Syarhus Sunnah Al-Baghawi 2/433]

Dari dua hadits di atas, tergambar bagi kita hukum menutup pundak dalam shalat. Dalam masalah ini memang ada perselisihan pendapat di kalangan ahlul ilmi.

Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam pendapatnya yang masyhur mengatakan wajib bagi orang yang memiliki kemampuan, berdalil dengan dzahir hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas.

Sementara jumhur ulama, di antaranya imam yang tiga, berpandangan mustahab, karena yang wajib ditutup hanyalah aurat sementara dua pundak bukanlah aurat. Adapun larangan dalam hadits tidaklah menunjukkan haram karena adanya hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu di atas. Sehingga larangan shalat dalam keadaan pundak terbuka mereka bawa kepada nahyut tanzih wal karahah, yaitu makruh, bukan haram. Wallahu a’lam. (Al-Umm kitab Ash-Shalah bab Jima’i Libasil Mushalli, Al-Majmu’ 3/181, Al-Mughni kitab Ash-Shalah fashl Hukmi Sitril Mankibain, Raddul Mukhtar ‘Ala Ad-Darril Mukhtar Syarhu Tanwiril Abshar Ibnu ‘Abidin 2/76, Subulus Salam 1/211, Taisirul Allam 1/259,260, Tamamul Minnah hal. 163)

Faedah

Apakah shalat seseorang batal bila di tengah shalatnya tersingkap bagian tubuhnya yang mesti ditutupi dalam shalat?

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu menerangkan:

1. Bila ia melakukannya dengan sengaja maka batal shalatnya, baik sedikit atau banyak bagian tubuhnya yang tersingkap, lama ataupun hanya sebentar.

2. Bila tidak sengaja dan yang tersingkap hanya sedikit, shalatnya tidak batal.

3. Bila tidak sengaja namun yang tersingkap banyak dalam waktu yang singkat, shalatnya tidak batal.

4. Tersingkap banyak bagian tubuhnya tanpa sengaja dalam waktu yang lama, ia tidak tahu kecuali di akhir shalatnya atau setelah salam, maka shalatnya tidak sah.

Misalnya: Seseorang shalat memakai sirwal (celana panjang yang luas/longgar) dan kain. Selesai salam dari shalatnya, ia dapatkan sirwalnya sobek besar pada bagian kemaluannya hingga menampakkannya, maka shalatnya tidak sah dan ia harus mengulangi shalatnya karena menutup aurat termasuk syarat sahnya shalat. Adapun bila di tengah shalat, pakaiannya sobek besar namun dengan segera ia pegang bagian yang sobek maka shalatnya sah. (Asy-Syarhul Mumti’ 1/446-447)

5. Menghadap Kiblat

Yang dimaukan dengan kiblat adalah Ka’bah. Dinamakan kiblat karena manusia menghadapkan wajah mereka dan menuju kepadanya. (Al-Majmu’ 3/193, Ar-Raudhul Murbi’ Syarhu Zadil Mustaqni’, 1/119, Asy-Syarhul Mumti’ 1/501, Al-Mulakhkhashul Fiqhi, 1/96)

Awalnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat menghadap ke Baitul Maqdis. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau menghadap ke Ka’bah, kiblat yang beliau cintai. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ

“Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit10, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang engkau sukai. Hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kalian berada, hadapkanlah wajah-wajah kalian ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al-Kitab (dari kalangan Yahudi dan Nasrani) memang mengetahui bahwa menghadap ke Masjidil Haram itu benar dari Rabb mereka, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 144)

Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu berkata:

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ شَهْرًا، حَتَّى نَزَلَتِ اْلآيَةُ الَّتِي فِي الْبَقَرَةِ {وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ} فَنَزَلَتْ بَعْدَمَا صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْطَلَقَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ، فَمَرَّ بِنَاسٍ مِنَ اْلأَنْصَارِ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ، فَحَدَّثَهُمْ فَوَلَّوْا وُجُوْهَهُمْ قِبَلَ الْبَيْتِ

“Aku shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap ke arah Baitul Maqdis selama 16 bulan, hingga turunlah ayat dalam surah Al-Baqarah: ‘Dan di mana saja kalian berada, palingkanlah (hadapkanlah) wajah kalian ke arahnya.’ Ayat ini turun setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat. Lalu pergilah seseorang dari mereka yang hadir dalam shalat berjamaah bersama Nabi. Ia melewati orang-orang Anshar yang sedang shalat (dalam keadaan masih menghadap ke arah Baitul Maqdis), maka ia pun menyampaikan kepada mereka tentang perintah perpindahan arah kiblat. Mendengar hal tersebut orang-orang Anshar pun memalingkan/menghadapkan wajah-wajah mereka ke arah Baitullah.” (HR. Muslim no. 1176) [Al-Hawil Kabir 2/68]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bangkit untuk shalat, beliau menghadap Ka’bah, baik dalam shalat wajib maupun shalat nafilah. Kata Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu: “Berita ini merupakan sesuatu yang pasti keberadaannya karena mutawatirnya….” (Ashlu Shifati Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/55)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada orang yang salah shalatnya:

إِذَا قُمْتَ إِلىَ الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ…

“Bila engkau bangkit untuk menegakkan shalat maka baguskanlah wudhu kemudian menghadaplah kiblat, setelah itu bertakbirlah….” (HR. Al-Bukhari no. 6251 dan Muslim no. 884)

Orang yang Melihat Ka’bah dan yang Tidak Melihatnya

Bagi orang yang shalat dalam keadaan dapat melihat Ka’bah maka wajib baginya shalat menghadap persis ke Ka’bah, seperti keadaan orang yang shalat di Masjidil Haram. Adapun orang yang tidak bisa menyaksikan Ka’bah secara langsung karena negerinya jauh dari Makkah misalnya, maka wajib baginya menghadap ke arah Ka’bah. Dalam hal ini perkaranya lapang, dalam arti bila seseorang shalat dalam keadaan menyimpang sedikit dari arah kiblat maka hal itu tidak menjadi masalah. Karena tetap saja ia dikatakan menghadap ke arah kiblat, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani suatu jiwa kecuali sekadar kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)

Dan juga berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْـمَغْرِبِ قِبْلَةٌ

“Antara timur dan barat adalah kiblat.” (HR. At-Tirmidzi no. 342, Ibnu Majah no. 1011, dan selain keduanya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa` no. 292) [Lihat Al-Umm, kitab Ash Shalah, bab Istiqbalil Qiblah, Al-Majmu’ 3/195, Subulus Salam 1/214, Asy-Syarhul Mumti’ 1/509, Al-Mulakhkhashul Fiqhi, 1/96,97, Taudhihul Ahkam 2/17,18]

Keberadaan arah kiblat di antara timur dan barat ini berlaku bagi penduduk Madinah dan negeri-negeri yang searah dengan Madinah. Dengan demikian, bagian selatan seluruhnya kiblat bagi mereka. Adapun yang tidak searah maka tentunya akan berbeda, arah kiblatnya bukan antara timur dan barat. Seperti kita di Indonesia ini, arah kiblatnya justru antara utara dan selatan. Wallahu a’lam.

Kapan Gugur Kewajiban Menghadap Kiblat?

Menghadap kiblat sebagai salah satu syarat shalat yang harus dipenuhi dapat gugur pewajibannya dalam keadaan-keadaan berikut ini:

1. Shalat tathawwu’ (shalat sunnah) bagi orang yang berkendaraan, baik kendaraannya berupa hewan tunggangan ataupun berupa alat transportasi modern seperti mobil, kereta api, dan kapal laut.

Jabir bin Abdillah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuma berkata:

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ أَنْمَارٍ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ مُتَوَجِّهًا قِبَلَ الْمَشْرِقِ مُتَطَوِّعًا

“Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Anmar mengerjakan shalat sunnah di atas hewan tunggangannya sementara hewan tersebut menghadap ke timur.” (HR. Al-Bukhari no. 4140)

Jabir radhiyallahu ‘anhu juga mengabarkan:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ، فَإِذَا أَرَادَ الْفَرِيْضَةِ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah di atas hewan tunggangannya ke arah mana saja hewan itu menghadap. Namun bila beliau hendak mengerjakan shalat fardhu, beliau turun dari tunggangannya lalu menghadap kiblat.” (HR. Al-Bukhari no. 400)

‘Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu berkata:

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الرَّاحِلَةِ يُسَبِّحُ، يُوْمِئُ بِرَأْسِهِ قِبَلَ أَيِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ، وَلَمْ يَكُنْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat nafilah di atas hewan tunggangannya menghadap ke arah mana saja hewan itu menghadap, beliau memberi isyarat dengan kepalanya (ketika melakukan ruku’ dan sujud, –pent.). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan hal itu dalam shalat fardhu.” (HR. Al-Bukhari no. 1097)

2. Shalat orang yang dicekam rasa takut seperti dalam keadaan perang, orang yang sakit, orang yang lemah, dan orang yang dipaksa (di bawah tekanan).

Orang yang tidak mampu menghadap kiblat disebabkan takut, sakit, atau dipaksa, ataupun dalam situasi berkecamuk perang maka diberi udzur baginya untuk shalat dengan tidak menghadap kiblat, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani suatu jiwa kecuali sekadar kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)

فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالاً أَوْ رُكْبَانًا

“Jika kalian dalam keadaan takut maka shalatlah dalam keadaan berjalan kaki atau berkendaraan.” (Al-Baqarah: 239)

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma setelah menjelaskan tata cara shalat khauf, pada akhirnya beliau berkata:

فَإِنْ كَانَ خَوْفَ هُوَ أَشَدُّ مِنْ ذَلِكَ، صَلُّوا رِجَالاَ قِيَامًا عَلَى أَقْدَامِهِم أَوْ رُكْبَانًا مُسْتَقْبِلِي الْقِبْلَةَ أَوْ غَيْرَ مُسْتَقْبِلِيْهَا

“Bila keadaan ketakutan lebih dahsyat daripada itu, mereka shalat dengan berjalan di atas kaki-kaki mereka atau berkendaraan, dalam keadaan mereka menghadap kiblat ataupun tidak.” (HR. Al-Bukhari no. 4535)

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma juga berkata:

غَزَوْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ نَجْدٍ، فَوَازَيْنَا الْعَدُوَّ، فَصَافَفْنَا لَهُمْ فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي لَنَا…

“Aku pernah berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di arah Najd. Kami berhadapan dengan musuh, lalu beliau mengatur shaf/barisan kami untuk menghadapi musuh. Setelahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengimami kami ….” (HR. Al-Bukhari no. 942)

Hadits di atas menunjukkan ketika situasi perang, seseorang tidak harus menghadap kiblat. Namun dia bisa menghadap ke mana saja sesuai dengan keadaan dan posisi musuh. (Al-Umm kitab Ash-Shalah, bab Al-Halain Al-Ladzaini Yajuzu Fihima Istiqbalu Ghairil Qiblah, Al-Hawil Kabir 2/70, 72,73, Al-Majmu’ 3/212, 213, Ar-Raudhul Murbi’ Syarhu Zadil Mustaqni’ 1/119, Al-Muhalla bil Atsar 2/257, Adz-Dzakhirah 2/118,122, Subulus Salam 1/214,215, Al-Mulakhkhashul Fiqhi, 1/97, Taudhihul Ahkam 2/20,21)

Orang yang Tersamar baginya Arah Kiblat

‘Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ فَلَمْ نَدْرِ أَيْنَ الْقِبْلَةُ، فَصَلَّى كُلُّ رَجُلٍ مِنَّا عَلَىحِيَالِهِ، فَلَمَّا أَصْبَحْنَا ذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَ {فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ}

“Kami pernah bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu safar di malam yang gelap. Ketika hendak shalat, kami tidak tahu di mana arah kiblat. Maka masing-masing orang shalat menghadap arah depannya. Di pagi harinya, kami ceritakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, turunlah ayat ‘Maka ke mana saja kalian menghadap, di sanalah wajah Allah’.” (HR. At-Tirmidzi no. 345, Ibnu Majah no. 1020. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi, Shahih Ibni Majah, dan Al-Irwa` no. 291)

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu pasukan perang. Ketika itu, kami ditimpa mendung hingga kami bingung dan berselisih tentang arah kiblat. Pada akhirnya masing-masing dari kami shalat menurut arah yang diyakininya. Mulailah salah seorang dari kami membuat garis di hadapannya guna mengetahui posisi kami. Ketika pagi hari, kami melihat garis tersebut dan dari situ kami tahu bahwa kami shalat tidak menghadap arah kiblat. Kami ceritakan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun beliau tidak menyuruh kami mengulang shalat. Beliau bersabda: “Shalat kalian telah mencukupi.” (HR. Ad-DaraQathani, Al-Hakim dll. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa` 1/323)

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Tatkala orang-orang sedang mengerjakan shalat subuh di Quba`, tiba-tiba ada orang yang datang seraya berkata, ‘Semalam telah diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ayat Al-Qur`an. Beliau diperintah untuk shalat menghadap ke Ka’bah.’ Mendengar hal tersebut, orang-orang yang sedang shalat itu pun mengubah posisi menghadap ke arah Ka’bah. Tadinya wajah mereka menghadap ke arah Syam, kemudian mereka membelakanginya untuk menghadap ke arah Ka’bah.” (HR. Al-Bukhari no. 403, 4491, 7251 dan Muslim no. 1178)

Hendaknya seseorang mencurahkan segala upayanya untuk mengetahui arah kiblatnya. Bila jelas baginya setelah selesai shalat bahwa ia menghadap selain arah kiblat, ia tidak perlu mengulang shalatnya karena shalat yang telah dikerjakannya telah mencukupi. (Subulus Salam, 1/213)

6. Niat

Niat merupakan ketetapan hati untuk melakukan suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Niat tempatnya di hati, tidak dibenarkan dan bahkan termasuk perkara bid’ah bila diucapkan dengan lisan. (Raddul Mukhtar 2/90, 91, Al-Mulakhkhashul Fiqhi, 1/98, 99)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Hanyalah amalan-amalan itu dengan niat….” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sebagai bagian dari amalan ibadah, shalat yang dikerjakan tentunya harus diawali dan disertai niat.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Termasuk syarat shalat adalah Islam, baligh/tamyiz, dan berakal. Syarat yang tiga ini harus ada dalam seluruh ibadah. (Ar-Raudhul Murbi’ Syarhu Zadil Mustaqni’, 1/98)

2 Dan termasuk perkara sunnah adalah shalat dengan memakai sandal (tentunya dengan perincian seperti yang dijelaskan oleh para ulama), sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

خَالِفُوا الْيَهُوْدَ فَإِنَّهُمْ لاَ يُصَلُّوْنَ فِي نِعَالِهِمْ وَلاَ خِفَافِهِمْ

“Selisihilah Yahudi karena mereka tidak shalat dengan mengenakan sandal dan tidak pula khuf mereka.” (HR. Abu Dawud no. 652, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dan beliau membahas hadits ini dalam Ashlu Shifati Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/109)

3 Dalam Ash-Shahihain, ada hadits Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَرَّ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّباَنِ فِي كَبِيْرٍ، بَلَى، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَنْزِهُ مِنَ الْبَوْلِ (وَفِي رِوَايَةٍ: بَوْلِهِ)…

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan, beliau berkata, “Kedua penghuni kuburan ini sedang diadzab. Tidaklah mereka diadzab karena perkara yang dianggap besar (oleh manusia) padahal sungguh perkaranya sebenarnya besar. Adapun salah satu penghuninya, (ia diadzab karena) tidak bersuci dari kencingnya (dalam satu riwayat: ia diadzab karena perkara kencingnya/ia tidak menjaga dari percikan najisnya)….”

4 Bila hendak mengerjakan shalat, karena keluarnya madzi merupakan salah satu pembatal wudhu.

5 Zinah adalah sesuatu yang dikenakan untuk berhias/memperindah diri seperti pakaian. (Mukhtarush Shihah, hal. 139)

6 Pundak laki-laki misalnya, bukanlah aurat di luar shalat karena batas aurat laki-laki dengan sesama lelaki adalah antara pusar dan lutut. Namun di dalam shalat ada perintah untuk menutup pundak sebagaimana akan disebutkan haditsnya.

7 Misalnya wajah dan kedua telapak tangan wanita boleh ditampakkan ketika shalat, selama tidak ada lelaki ajnabi (non mahram). Namun di luar shalat ia harus menutupnya dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya.

Tentang pakaian wanita dalam shalat telah dibahas dalam lembar Sakinah dari majalah ini.

8 Maksudnya shalat dalam keadaan kedua pundak terbuka, tidak ada pakaian yang menutupi.

9 Daerah aurat antara pusar dan lutut harus tertutup.

10 Dalam keadaan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dan menunggu-nunggu turunnya wahyu dari langit yang memerintahkan beliau untuk menghadap ke Baitullah ketika shalat

Sumber:

http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=540

SHALAT

Untuk mendapat manfaat langsung dari kudrat Allah SWT dengan menunaikan perintah-perintah Allah Ta’ala mengikut cara Rasulullah SAW maka shalat adalah amal yang sangat penting dan mendasar.

SHALAT – SHALAT FARDHU

Ayat-ayat Al Qur’an

قال الله تعالى: إن الصلوة تنهى عن الفحشآء والمنكر { العنكبوت:45}

Allah SWT berfirman : Sesungguhnya Shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar ( Surat Al- Ankabut 29:45 )

وقال الله تعالى : إن الذين ءامنوا وعملو الصلحت وأقاموا الصلوة وءاتواالزكوة لهم أجرهم عندربهم ولا خوف عليهم ولا هم يحزنون { البقرة 277}

Allah SWT berfirman : Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat, pahala mereka ada pada Allah. Dan mereka tidak perlu khawatir dan tidak perlu gundah gulana. ( Al-Baqarah 2:277 )

وقال تعالى : قل لعبادى الذين ءامنو يقيموا الصلوة وينفقوا مما رزقنهم سرا وعلانية من قبل أن يأتى يوم لا بيع فيه ولا خلل {إبراهيم 31}

Allah SWT berfirman : ( Wahai Muhammad ) katakanlah kepada hamba-hamba- Ku yang beriman supaya mereka mendirikan shalat dan menafkahkan rezeki yang kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi atau secara terbuka, sebelum datang suatu hari, ketika sudah tidak ada lagi tawar menawar dan persahabatan. ( Ibrahim 14 : 31 )

وقال تعالى : رب اجلنى مقيم الصلوة ومن ذريتى ربنا وتقبل دعآء { إبرهيم 40}

Allah SWT berfirman : Tuhanku ! jadikanlah aku orang yang tetap mendirikan shalat, juga diantara keturunanku. Ya Tuhan kami ! terimalah doaku! ( Ibrahim 14 : 40 )

وقال تعالى : أقم الصلوة لدلوك الشمس إلى غسق اليل وقرءان الفجر إن قرءان الفجر كان مشهودا {الإ سراء : 78}

Allah SWT befirman : ( Kepada Rasulullah SAW ) dirikanlah shalat pada waktu matahari tergelincir sampai gelap malam, dan shalat subuh dan bacaannya, karena shalat dan bacaan subuh disaksikan ( oleh malaikat-malaikat ). ( Al Isra 17:78 )

وقال تعالى : والذين هم على صلوتهم يحافظون {المؤمنون : 9}

Allah SWT berfirman : ( menyebutkan kelebihan yang mulia orang-orang beriman) ) dan mereka setia menjaga shalat mereka. ( Al-Mu’minun 23: 9 )

وقال تعالى : يأ يها الذين ءامنوا إذا نودى للصلوة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكرالله وذروالبيع ذا لكم خيرلكم إن كنتم تعلمون ِْ{ الجمعة : 9}

Allah SWT berfirman : Hai orang-orang beriman ! apabila ( azan ) sudah diseru untuk menunaikan shalat juma’at maka bersegeralah mengingati Allah dan tinggalkan jual beli ( dan kegiatan-kegiatan lain ) ; itulah lebih baik bagi kamu jikalau kamu mengetahui. ( Al-Jumuah 62: 9 ).

Hadist-hadist Nabawi

1- عن ابن عمر رضىالله عنهما قال: قال رسول الله : بنىالإسلام على خمس : شهادة أن لآ إله إلله وأن محمدارسول الله ، وإقام الصلاة ، وإيتاء الزكاة، والحج ، وصوم رمضان. رواه الخارى، باب دعاؤ كم ايمانك….رقم :8

1- Ibnu Umar r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : Islam didirikan keatas lima tiang- bersaksi bahwa “ Tiada yang patut disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah “, dan mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, dan menunaikan haji, dan saum ( puasa ) pada bulan ramadhan. ( HR. Bukhari )

2- عن جبيربن نفير رحمه الله مرسلا قال : قال رسول الله : ماأوحى إلىأن أجمع المال ،وأكون من التا جرين ، ولكن أوحى إلى أن : سبح بحمد ربك وكن من السجدين ، واعبدربك حتى يأتيك اليقين . رواه البغوى فى شرح السنة ، مشكوة المصا بيح ، رقم : 5206

2- Zubair Ibnu Nufair rahimahullah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : tidaklah diwahyukan kepadaku supaya aku mengumpulkan harta dan berada diantara para peniaga ; akan tetapi telah diwahyukan kepadaku untuk memuji dan memuliakan Rab ( Pemberi rezeki dan Pemelihara ) ; dan supaya saya berada diantara orang-orang yang bersujud ( dalam shalat ), sehingga kamu dijemput oleh suatu kepastian ( maut ) ( Sharghus Sunnah dan Mishqatul mashaabih ).

3- عن ابن عمر رضى الله عنهما عن النبى  فى سؤال جبرئيل إياه عن الإسلام فقال : الإ سلام أن لآ إله إلا الله ، وأن محمدا رسول الله ، وأن تقيم الصلاة ، وتؤ تى الزكاة ، وتحج البيت ، وتعتمر ، وتغتسل من الجنا بة ، وأن تتم الوضوء، وتصوم رمضان . قال : فإذ فعلت ذلك فانا مسلم ؟ قال نعم ، قال : صدقث . رواه ابن خزيمة 1/4

3- Ibnu Umar r.a. meriwayatkan Nabi SAW bersabda : Bahwa Jibril a.s. ( ketika ia muncul sebagai seorang asing ) bertanya tentang islam : Rasululah SAW menjawab : islam adalah bersaksi bahwa “ Tiada yang patut disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah “ dan bahwa kamu mendirikan shalat , dan mengeluarkan zakat dan

menunaikan haji ke rumah Allah ( ka’bah ) dan mengerjakan umrah ; dan mandi janabah ( hadas besar ), dan berwuduk secara sempurna dan saum ( berpuasa ) dalam bulan ramadhan. Jibril a.s. kemudian berkata jikalau aku mengerjakan semua yang diatas maka apakah aku seorang muslim ? Baginda menjawab : ya, Jibril a.s menguatkan : engkau berkata benar ( Ibnu khujaimah ).

4-عن قرة بن دعموص رضى الله عنه قال: ألفينا النبى  فى حجة الوداع فقلنا : يارسول الله ! ما تعهد إلينا ؟ قال : أعهد إليكم أن تقيموا الصلاة وتؤتوا الزكوة وتحجوا البيت الحرم وتصوموا رمضان فإن فيه ليلة خير من ألف شهر وتحرموا دم المسلم وماله والمعاهد إلا بحقه وتعتصموا بالله والطاعة . رواه البيهقى فى شعب الإيمان 4/342

4- Qurrah Ibnu Da’mus ra meriwayatkan : kami bertemu Nabi SAW selama perjalanan haji dan bertanya wahai Rasulullah ! apa yang engkau dakwahkan kepada kami ? Baginda menjawab : saya menyeru kamu untuk mendirikan shalat, dan mengeluarkan zakat, dan menunaikan haji kerumah Allah, dan saum ( berpuasa ) dalam bulan ramadhan, karena sesungguhnya disana terdapat suatu malam yang lebih mulia dari seribu bulan ; dan demikian pula aku melarang kamu dari menumpahkan darah seorang muslim dan seorang mu’ahid atau merampas harta mereka kecuali dengan cara yang adil; dan aku menasehatkan kamu untuk berpegang teguh kepada ( din ) Allah dan aku mengajak kamu kepada ketaatan ( orang-orang yang istiqamah dalam din ). ( HR.Baihaqi)

Catatan :1) Seorang mu’ahid arti harfiahnya seorang yang masuk kedalam suatu perjanjian atau persekutuan, yang menunjuk kepada seorang non muslim yang tinggal dalam suatu negeri islam dibawah perlindungan negara islam ; yang masuk kedalam suatu persetujuan dengan pernyataan yang diketauhi sebagai persetujuan dhimmah. Sebagai suatu perjanjian ketundukannya dan penyerahannya kepada negeri itu maka ia membayar minimal pajak tahunan yang dikenal sebagai jizyah sekurang-kurangnya ia mendapat manfaat dan perlindungan yang memberi keamanan kepadanya. Ia juga diketauhi dengan gelaran dhimmi. Seorang non muslim yang memasuki negeri islam untuk masa yang sementara, berada dalam perlindungan dan jaminan seorang muslim, begitu pula berhak mendapat perlindungan atas diri, harta dan martabatnya.

2.) Diri harta dan kehormatan setiap muslim dan non muslim berada pada kondisi yang telah disebutkan terlebih dahulu, dianggap sakral dan terlindung, dengan kekecualian kejahatan yang menuntut balasan yang sama, seperti hukuman mati bagi seorang pembunuh, dan balasan keuangan bagi rusaknya tanah milik seseorang.

3). At-ta’ah menunjuk kepada ketaatan kepada Allah. Meskipun mungkin lebih menunjuk kepada ketaatan mereka yang istiqomah dalam din dan memberikan suatu tanggugjawab atau kekuasaan tertentu sebagaimana yang dijelaskan oleh berbagai ayat-ayat Al Qur’an dan sejumlah hadist. Ternyata ketaatan orang-orang yang dengan kekuasaan dalam islam adalah salah satu cabang datri At-ta’ah.

5- عن جايربن عبدالله رضى الله عنهما قال: قال النبى : مفتاح الجنة الصلاة ومفتاح الصلاة الطهور. رواه أحمد 3/240

5. Jabir Ibnu abdullah r.a.meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda : kunci kepada surga adalah shalat dan kunci kepada shalat adalah wudhu ( Musnad Ahmad ).

6- عن أنس رضى الله عنه قال : قال رسول الله : جعل قرة عينى فى الصلاة. (وهوبعض الحديث ) رواه النسائى، باب حب النساء ، رقم : 3391

6. Anas r.a.meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : kesenangan dan kesukaan mataku terdapat dalam shalat ( Nasahi )

7- عن عمر رضى الله عنه قال : قال رسول الله  الصلاة عمود الدين. رواه أبونعيم فى الحلية وهوحديث حسن ، الخامع الصغير 2/120

7. Umar r.a. meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda : shalat adalah penopang tiang agama. ( Hilyatun awliyah dan jami-us shagir )

8- عن على رضى الله عنه قال : كان آجركلام رسول الله : الصلاة الصلاة، اتقواالله فيما ملكت أيمانكم أبو داؤد،. رواه باب فى حق المملوك، رقم : 5156

8. Ali r.a. meriwayatkan bahwa perkataan terakhir Rasulullah SAW adalah ashalah ! ashalah ! takutlah kepada Allah mengenai apa yang kamu miliki ( hamba sahayamu ) dan orang-orang dibawah jagaan kamu). ( HR.Abu daud )

Catatan : -waspada menjaga, dan mendirikan shalat.

-Takutlah akan pertanggungjawabanmu dihadapan Allah dan menunaikan hak-haknya.

9- عن أبى أمامة رضى الله عنه أن النبى  أقبل من خيبر، ومعه غلا مان ، فقال على : يا رسول الله ! أخدمنا، قال : خذأيهما شئت، قال : خرلى قال : خذهذا ولاتضربه، فإنى قد رأيته يصلى مقفلنا من خيبر، وإنى قد نهيت عن ضرب أهل الصلوة. (وهوبعض الحديث ) رواه أحمد والطبرنى، مجمع الزوائد 4/433

9. Abu Umamah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAW kembali daripada khaybir dan ia membawa sertanya dua orang hamba sahaya. Maka Ali r.a. berkata : Wahai ٌٌٌRasulullah ! berikan kepada kami seorang hamba sahaya. Baginda menjawab : ambil dari salah satu kedua orang ini. Ali berkata : pilihkan bagiku ( salah satu dari mereka ). Rasulullah SAW ( menunjuk salah satu ) berkata ambilah dia, tapi janganah memukulnya ; karena saya melihatnya m,engerjakan shalat ketika kami kembali dari khyber, dan saya dilarang untuk memukul orang-orang yang mengerjjakan shalat. ( Musnad ahmad, tabrani dan Majma uz zawaid ).

10- عن عبادة بن الصامت رضى الله عنه قال : سمغت رسول الله  يقول : خمس صلوات افترضهن الله عزوجل، من أحسن وضوء هن وصلاهن لوقتهن وأتم ركوعهن وخشو عهن ، كان له على الله عهد أن يغفر له ، ومن لم يفعل فليس له على الله عهد، إن شاء غفرله، وإن شاء عذ به. رواه أبوداود ، باب المحافظة على الصلوات، رقم : 465

10. Ubadah Ibnu Samid r.a. meriwayatkan : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : Lima kali shalat telah dijadikan perintah bagi Allah SWT ; barangsiapa yang mengambil wudhu dengan sempurna dan mengerjakan shalat-shalat ini pada masa yang telah

ditetapkan, melakukan rukuk dengan sempurna, dan dengan khusuk ( takut dan berserah diri ) bagi orang yang demikian ada perjanjian dari Allah, bahwa Dia akan mengampuninya. Dan barangsiapa yang tidak mengerjakannya demikian ( tentang shalat ) tidak ada perjanjian baginya dengan Allah. Jikalau Dia menghendaki Dia boleh mengampuninya, dan jikalau Dia menghendaki Dia boleh mengazabnya. ( HR.Abu daud ).

11- عن حنظلة الأسيدى رصى الله عنه أن رسول الله  قال : من حافظ على الصلوات الخمس على وضوءها ومواقيتها وركوعها وسجودها يراها حقا الله عليه حرم على النار . رواه احمد 4/267

11. Hanzalah Ibnu Al Usaidi r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : barangsiapa menjaga lima kali shalat dengan wuduk pada waktu-waktu yang telah ditetapkan dengan rukuk dan sujud yang benar, sambil menganggapnya sebagai hak Allah maka api neraka diharamkan keatasnya. (Musnad Ahmad ).

12- عن أبى قتادة بن ربعى رضى الله عنه قال : قال رسول الله  : قال الله عزوجل : إنى فرضت على أمتك خمس صلوات ، وعهدت عبدى عهدا ، أنه من جاء يحافظ عليهن لوقتهن أدخلته الجنة ، ومن لم يحافظ عليهن فلا عهدله عندى . رواه أبو داود ، باب المحافظة على الصلوت ، رقم 430

12- Abu Qatadah Ibnu Rib’I r.a. meriwayatkan : Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist qudsi bahwa Allah SWT berfirman : sesungguhnya aku telah memerintahkan kepada umatmu lima kali shalat dan aku telah bersumpa dengan diriku sendiri bahwa barangsiapa yang datang ( pada hari kiamat ) dengan menjaga shalat-shalat ini pada waktu-waktu yang telah ditetapkan, Aku akan memasukkannya kedalam surga. Dan barangsiapa yang tidak menjaga shalt-shalat ini Aku tidak ada perjanjian dengannya ( Aku boleh mengazabnya atau mengampuninya ). ( HR.Abu Daud )

13-عن عثمان بن عفان رضى الله عنه أن رسول الله  قال من علم أن الصلاة حق واجب دخل الجنة . رواه عبدالله بن أحمد فى زياداته وأبو يعلى إلا أنه قال. حق مكتوب واجب والبزار بنجوه ، ورجاله موثقون ، مجمع الزوائد 2/ 15

13- Ustman r.a. meriwayatkan bahwa : Rasulullah SAW bersabda : barangsiapa yang menganggap bahwa mendirikan shalat adalah kewajiban yang diperintah akan memasuki surga ! ( Musnad Ahmad, Abu Ya’la, Bazar, Majma Uz zawaid).

14- عن عبد الله بن قرط رضى الله عنه قال: قال رسول الله  أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة الصلاة فإن صلحت صلح سائر عمله ، وإن فسدت فسد سائر عمله . رواه الطبرانى فى الأوسط ولاباس ياسناده إنشاءالله ، التلاغيب 1/245

14- Abdullah Ibnu Qurt ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : pada hari kiamat perkara pertama yang akan dihisab bagi seorang hamba Allah adalah shalat. Jikalau didapatinya memadai maka sisa-sisa amalannya akan juga memadai dan jikalau

didapati shalatnya tidak memadai maka amalan-amalan selebihnya juga tidak memadai. ( HR. Tabrani dan Targhib )

15-عن جابر رضى الله عنه قال : قال رجل للنبى  : إن فلانا يصلى فإذا أصبح سرق . ٌقال : سينهاه ما يقول .رواه البزار ورجاله ثقات ، مجمع الزوائد 2/531

15- Jabir r.a. meriwayatkan : seseorang melaporkan kepadaNabi SAW : fulan bin fulan mengerjakan shalat kemudian pada waktu subuh ia mencuri. Nabi SAW menjawab: Cepat atau lamabat shalatnya akan membersihkannya dari dosa itu. ( Badzar dan Majma-Uz zawaid .

16- عن سلمان رضى الله عنه قال : قال رسول الله  : إن المسلم إذا توضأ فأحسن الضوء ، ثم صلى الصلوات الخمس ، تحاتت خطاياه كما يتحات هذا الورق ، وقال :( وأقم الصلوة طرفى النهار وزلفا من الليل ط إن الحسنت يذهبن السيات ط ذلك ذكرى للذاكرين ) (هود : 114) (وهو جزء من الحديث ) رواه أحمد 5/437

16- Salman r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : Sesunguhnya seseorang muslim, apabila ia mengambil wudhu dan wudhu dikerjakannya dengan sempurna kemudian mendirikan lima kali shalat, maka dosa-dosanya akan berguguran seperti daun-daun pohon gugur dari dahannya. Kemudian baginda membaca ayat berikut:

وأقم الصلوة طرفى النهار وزلفا من الليل ط إن الحسنت يذهبن السيات ط ذلك ذكرى للذاكرين

Artinya : Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan beberapa masa pada waktu malam ( shalat fardhu lima kali sehari ), sesungguhnya perbuatan baik mengahapuskan perbuatan buruk. Inilah peringatan ( nasehat ) bagi orang-orang yang mau berfikir ( orang-orang yang menerima nasehat )- ( Hud 11: 114 ) ( Musnad Ahmad )

Catatan : menurut beberapa ulama, “ kedua tepi” bermakna dua bagian. Bagian pertama bermaksud shalat shubuh dan bagian kedua bagi shalat zhuhur dan shalat Ashar. Mengerjakan shalat dalam beberapa waktu dimalam hari menunjuk kepada shalat maghrib dan isya. ( Tafsir Ibnu Katsir ).

17-عن أبى هريرة رضى الله عنه أن رسول الله  كان يقول : الصلوات الخمس ، والجمعة إلى الجمعة، ورمضان إلى رمضان، مكفرات مابينهن إذا اجتنب الكبائر. رواه مسلم، باب الصلوات الخمس …رقم : 552

17- Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa : Rasulullah SAW bersabda : Lima kali shalat; dan shalat jum’at dari jumat yang terakhir; dan puasa ramadhan dari akhir ramadhan ; adalah penghapusan bagi dosa-dosa yang dilakukan diantaranya, asalkan pendosa menjauhkan diri dari dosa-dosa besar. (HR.Muslim )

18-عن أبى هريرة رضى الله عنه قال : قال رسول االله من حافظ على هؤلاء الصلوت المكتوبات لم يكتب من الغافلين. (الحديث ) رواه ابن خزيمة فى صحيحه 2/180

18- Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa menjaga shalat fardhu ( mendirikannya dengan tekun) tidak akan terdaftar diantara orang-orang yang lalai. (Ibnu Khuzaimah )

19- عن عبد الله بن عمرورضىالله عنهما عن النبى  أنه ذكر الصلاة يوما، فقال : من حافظ عليها كانت له نورا وبرهانا ، ونجاة يوم القيامة، ومن لم يحافظ عليهما لم يكن له نور ولا برهان ، ولا نجاة ، وكان يوم الفيامة مع فرعون وهامان وأبى بن خلف. رواه أحمد والطبر انى فى الكبير والآوسط، ورجال أحمد ثفات، مجمع الزوائد 2/21

19- Abdullah Ibnu Amr r.a. meriwayatkan : pada suatu hari Rasulullah SAW menyebutkan tentang shalat dan bersabda : barangsiapa yang menjaga shalatnya, maka akan menjadi nur dan pembela bagi dirinya dan sebagai asbab keselematannya pada hari kiamat ; dan bagi orang yang tidak menjaganya, tidak akan menjadi nur atau menjadi pembela bagi pihaknya dan tidak menjadi sebab keselamatannya pada hari kiamat. Dan pada hari kiamat, ia kan digolongan bersama fir’aun, Hamman dan Ubay Ibnu Khalab. ( Munad Ahmad, tabrani dan Majma Uz zawaid ).

Catatan: Fir’aun adalah raja Mesir pada Musa a.s. dan Hamman adalah mentri Fir’aun dan Ubay Ibnu Khalab adalah seorang kafir yang keras kepala dan musuh Rasulullah SAW.

20-عن أبى مالك الأشجعى عن أبيه رضى الله عنهما قال : كان الرجل إذ1 أسلم على عهد النبى  علموه الصلاة. رواه الطبرنى فى الكبير 8/ 380 وفى الحاثية : قال فى المجمع 1/ 293 :رواه الطبر انى والبزار ورجاله الصحيح

20- Abu Malik Al-Ashja’I dari ayahnya r.anhuma yang berkata apabila seseorang hendak masuk islam selama masa Rasulullah SAW mereka ( sahabat ) mengajarkan kepadanya pertama-tama shalat. ( HR.Tabrani )

21- عن أبى أمامة رضى الله عنه قال : قيل : يارسول الله ! أى الدعاء أسمع ؟ قال : جوف الليل الآخر، ودبر الصلوات المكتوبات . رواه الترمذى وقال : هذا حد يث حسن، باب حديث ينزل ربنا كل ليلة … رقم : 3499

21- Abu Umamah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah ditanya : wahai Rasulullah ! doa pada waktu yang manakah yang pasti diterima? Baginda menjawab ; seorang yang berdoa pada bahagian terakhir pada malam dan setelah shalat fardhu. (HR.Tirmidzi ).

22-عن أبى سعيد الخدرى رضى الله عنه أنه سمع رسول الله يقول : الصلوات الخمس كفارة لما بينها، ثم قال رسول الله  أرأيت لوأن رجلا كان يعتمل فكان بين منزله ومعتمله خمسة أنهار، فإذا أتى معتمله عمل فيه ما شاءالله فأصابه الوسخ أوالعرق فكلما مر بنهر اغتسل ما كان ذلك يبقى من درنه ، فكذ لك الصلاة كلما عمل خطيئة فد عا واستغفرغفر له ما كان قبلها وفيه : عبدالله بن قر يظ ذكره ابن حبان فى الثنات ، وبقة رجاله الصحيح ، مجمع الزوائد 2/32

22- Abu said Al Kudri r.a. meriwayatkan : saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : Lima kali shalat adalah penghapusan bagi dosa-dosa kecil yang dilakukan diantaranya. Kemudian Baginda bersabda : seorang yang pergi bekerja dan diantara tempatnya dan tempat ia bekerja terdapat lima sungai. Apabila ia sampai ditempat kerjanya, dan pekerjaan yang dilakukannya dengan ijin Allah ia menjadi kotor dan berkeringat. Kemudian ( pada ketika ia kembali ) ia melalui sungai-sungai ini ; ia mandi didalamnya, dan mandinya yang berulang kali menyebabkan tiada kotoran dan keringat yang tertinggal padanya. Shalat adalah seumpama itu ! bilamana seorang melakukan dosa dan ( mengerjakan shalat ), berdoa dan memohon ampunan maka ia diampuni bagi dosa-dosanya yang ia lakukan sebelum shalat. ( badzar, tabrani dan Majma Uz zawaid )

23- عن زيد بن ثابت أبى رضى الله عنه قال : أمرناأن نسبح دبر كل صلاة ثلا ثا وثلا ثين ونحمده ثلا ثا وثلاثين ونكبره أربعا وثلاثين قال : فرأى رجل من الأنصار فى المنام، فقال : أمركم رسول الله  أن تسبحوا فى دبر كل صلاة ثلا ثا وثلا ثين وتحمدوا الله ثلاثا ثين وتكبروا أربعا وثلا شين ؟ قال : نعم، قال : فاجعلوا خمسا وعشرين واجعلوا التهليل معهن فغدا على النبى  فحدثه فقال : افعلوا. راوه الترمذ وقال : هذاحديث صحيح، باب منه ماجاء فى التسبيح والتكبير والتحميد عندالمنام، رقم : 3413، الجامع الصحيح وهوسنن الترمذى، طبع دار الكتب العلمية

23- Zaid Ibnu Tsabit r.a meriwayatkan : kami telah diperintahkan ( oleh Rasulullah SAW) untuk membaca selepas setiap shalat fardhu Subhanallah ( Maha Suci Allah ) 33 kali , Alhamdulillah ( Segala Puji bagi Allah ) 33 kali dan Allahuakbar ( Allah maha Besar ) 34 kali selepas setiap shalat fardhu. Ia ( orang Anshar) berkata ya. Suara dalam mimpi berkata : Ucapkanlah 25 kali, dan tambahkanlah dengannya La ilaha illallah ( Tiada yang patut disembah kecuali Allah ) 25 kali. Pada waktu pagi ketika ia pergi dan menceritakan mimpinya kepada Nabi SAW, Baginda berkata : lakukanlah demikian ( Baginda mengizinkannya ). ( HR.Tirmidzi ).

24- عن أبى هريرة رضى الله عنه أن فقراء المهاجرين أتوارسول الله  فقالو : قد ذهب أهل الدثور بالدرجات العلى والنعيم المقيم. فقال : وما ذاك ؟ : قالوا : يصلون كما نصلى، ويصومون كما نصوم، ويتصدقون ولانتصدق، ويعتقون ولا نعتق. فقال رسول الله : أفلا أعلمكم شيئا تدركون به من سبقكم ، وتسبقون به من بعدكم ؟ ولايكون أحد أفضل منكم إلا من صنع مثل ما صنعتم . قالوا : بلى ،يا رسول الله ! قال : تسبحون وتكبرون وتحمدون فى دبر كل صلاة ، ثلاثا وثلاثين مرة ، قال أبو صالح : فرجع فقراء المهاجرين إلى رسول الله  فقالوا : سمع إخواننا أهل الأموال بما فعلنا ، ففعلوا مثله ، فقال رسول الله : ذلك فضل الله يؤتيه من يشآء . رواه مسلم ، باب استحباب الذكر بعد الصلاة …. ، رقم: 1347

24- Abu Huarairah r.a. meriwayatkan bahwa pada suatu hari beberapa orang muhajir yang miskin datang kepada Rasulullah SAW dan berkata : orang-orang kaya telah mendahului kami, mereka mendapatkan derajat kerohanian yang lebih tinggi dan nimat-nikmat yang kekal dari Allah. Rasulullah SAW ingin mengetauhi : bagaiman boleh demikian ? mereka menjawab : mereka yaitu ( orang-orang kaya ) mengerjakan shalat dan puasa seperti yang kami lakukan akan tetapi karena mereka kaya, mereka dapat mengerjakan amalan-amalan kebajikan yang lain, seperti memberikan sedekah dan membebaskan hamba sahaya yang mana kami (orang-orang miskin ) tidak dapat melakukan sedemikian. Rasulullah SAW bertanya : maukah aku memberitahu kamu sesuatu yang dengan beramal keatasnya yang kamu boleh ditinggikan dan melebihi keunggulanmu, dan tiada seorangpun yang boleh lebih baik dari pada kamu kecuali ia juga melakukan hal yang sama ! para sahabat r.a. berkata : beritahukanlah kepada kami. Maka Rasulullah SAW bersabda : Ucapkanlah Subhanallah ( maha Suci Alah ), Alhamdulillah ( Segala Puji bagi Allah ) dan Allahuakbar ( Allah Maha Besar ) 33 kali pada setiap sesudah shalat fardhu. Mereka mengamalakan nasehatnya, akan tetapi orang-orang kaya juga mengetauhi amalan ini dan kelebihannya dan mulailah mereka mengamalkan amalan yang sama. Orang –orang muahajir yang miskin sekali datang kepada Rasulullah SAW dan bermohon : saudara-saudara kami yang kaya telah mempelajari apa yang engkau beritahukan kepada kami, dan beramal dengan amalan itu. Rasulullah SAW kemudian bersabda : itulah karunia Allah yang Ia anugerahkan kepada siapa saja yang Ia kehendaki. ( HR.Muslim )

25-عن أبى هريرة رضى الله عنه عن رسول الله  من سبح الله فى دبر كل صلاة ثلاثا وثلاثين ، وحمد الله ثلاثا وثلاثين وكبر الله ثلاثا وثلاثين ، قتلك تسعة وتسعون ، وقال : تمام المائة : لآ إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شىء قدير ، غفرت خطاياه وإن كانت مثل زبد البحر . رواه مسلم ، باب استحباب الذكر بعد الصلاة وبيان صفته ، رقم : 1352

25. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : barangsiapa mengucapkan Subhanallah ( Maha Suci Alah ) 33 kali, Alhamdulillah ( Segala Puji bagi Allah ) 33 kali, dan Allahuakbar ( Allah Maha Besar ) 33 kali yang keseluruhannya menjadi 99 an untuk menyempurnakannya menjadi 100 ucapkanlah satu kali

لآ إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شىء قدير

ِ

Artinya : Tiada yang patut disembah kecuali Allah, Dialah yang Esa, Dia tidak mempunyai serikat, baginya adalah kerajaan dan bagi-Nya segala pujian dan Dialah yang mempunyai kekuasaan atas segala sesuatu, maka segala dosanya akan diampuni bahkan jikalau dosa-dosanya sebanyak buih dilautan. (HR.Muslim )

26-عن الفضل بن الحسن الضمرى أن أم الحكم – أو ضباعة – ابنتى الزبير بن عبد المطلب رضى الله عنهما حدثته ، عن إحداهما أنها قالت : أصاب رسول الله  سبيا فذهبت أنا وأختي وفاطمه بنت رسول الله  فشكونا إليه ما نحن فيه وسألناه أن يأمر لنا بشىء من السبى ، فقال رسول الله  سبقكن يتامى بدر ، ولكن سأدلكن على ما هو خير لكن من ذلك ، تكبرن الله على إثر كل صلاة ثلاثا وثلاثين تكبيرة وثلاثا وثلاثين تسبيحة وثلاثا وثلاثين تحمدة ولآ إله إلا الله وحده لا شريك له ، له الملك وله الحمد وهو على كل شىء قدير . رواه أبوداود, باب فى مواضع قسم الخمس … ، رقم : 2978

26- Fadl Ibnu hasan Damri rahimahullah berkata bahwa salah satu daripada dua putri Jubair Ibnu Abdul Muthalib, Ummu hakam atau Duba’ah r.anhuma menceritakan peristiwa ini : beberapa tawanan telah dibawa kepada Rasulullah SAW. Saya, saudara perempuanku, dan Fatimah Binti Rasulullah SAW datang kepadanya dan menjelaskan kesulitan-kesulitan kami, kami meminta beberapa orang tawanan untuk membantu. Rasulullah SAW bersabda : bagi hamba-hamba sahaya, anak-anak yatim Badar adalah lebih layak daripada kamu, akan tetapi aku akan memberitahu kepada kamu sesuatu yang lebih baik daripada seorang hamba sahaya ; sesudah setiap waktu shalat, ucapkanlah ketiga perkara ini ; Subhanallah ( Maha Suci Allah ), Alhamdulillah ( Segala Puji bagi Allah ) dan Allahuakbar (Alah Maha Besar ) 33 kali tiap-tiapnya dan sekali

لآ إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شىء قدير

Artinya : “ Tiada yang patut disembah kecuali Allah, Dialah Yang Esa, Tiada sekutu baginya, Dialah yang mempunyai kerajaan, dan baginya segala pujian, dan Dia berkuasa atas segala sesutu”. ( HR.Abu Daud).

27- عن كعب بن عجرة رضى الله عن رسول الله  قال : معقبات لا يخيب قائلهن ، أو فاعلهن : ثلاثا وثلاثين تسبيحة ، وثلاثا و ثلاثين تحميدة ، وأربعا وثلاثين تكبيرة فى دبر كل صلاة . رواه مسلم ، باب استحباب الذكر بعد الصلاة …..، رقم 1350

27- Kaab Ibnu Ujrah r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : ada beberapa kalimat yang apabila diucapkan sesudah shalat, yang sedemikian sehingga barangsiapa mengucapkannya tidak akan pernah kecewa. Kalimah-kalimah itu adalah Subhanallah ( Allah Maha Suci ) 33 kali, Alhamdulillah ( Segala Puji bagi Allah ) 33 kali dan Allahuakbar ( Allah maha Besar ) 34 kali sesudah setiap shalat fardhu. ( HR.Muslim ).

28- عن السائب عن على رضى الله عنهما أن رسول الله  لما زوجه فاطمة بعث معه بخميلة ، ووسادة من أدم حشوها ليف ، ورحيين وسقاء ، وجرتين ، فقال على رضى الله عنه لفاطمة رضى الله عنها ذات يوم : والله لقد سنوت حتى لقد اشتكيت صدرى ، قال : وقد جاء الله أباك بسبى فاذهبى فاستخدميه ، فقالت : وأنا الله قد طحنت حتى مجلت يداى ، فأتت النبى  فقال : ما جاءبك أى بنية ؟ قلت : جئت لأسلم عليك واستحيت أن تسأله ورجعت فقال : ما فعلت ، قالت : استحييت أن أسأله ، فأتيناه جميعا ، فقال على رضى الله عنه : يا رسول الله ! لقد سنوت حتى اشتكيت صدرى ، وقالت فاطمة رضى الله عنها : قد طحنت قد طحنت حتى مجلت يداى ، وقد جاءك الله بسبى وسعة فأخدمنا ، فقال رسول الله  والله لآ أعطيكما وأدع أهل الصفة تطوى بطونهم لا أجد ما أنفق عليهم ، ولكنى أبيعهم وأنفق عليهم أثمانهم ، فرحعا فأتاهما النبى  ، وقد دخلا فى قطيفتهما إذا غطيا رؤوسهما تكشفت أقدامهما ، وإذا غطيا أقدامهما تكسفت رؤوسهما فثارا ، فقال : مكانكما . ثم قال : ألا أخبركما بخير مما سألتمانى ؟ قالا : بلى ، فقال : كلمات علمنيهن جيريل عليه السلام فقال : تسبحان فى دبر كل صلاة عشرا ، وتحمدان عشرا ، وتكبران عشرا ، وأذا

أويتما إلى فراشكما فسبحا ثلاثا وثلاثين ، واحمدا ثلاثا وثلاثين ، وكبرا أربعا وثلاثين . قال : فوالله ما تركتهن منذ علمنيهن رسول الله *** قال : فقال له ابن الكواء : ولا ليلة صفين ، فقال : قاتلكم الله يا أهل العراق نعم ، ولا ليلة صفين . رواه أحمد 1 / 106

28- Saib r.a. berkata : Ali r.a. meriwayatkan bahwa : ketika Rasululah SAW mengawinkannya dengan Fatimah r.anha. fatimah dihantar dengan sehelai seprai tempat tidur, sebuah bantal kulit yang diisi dengan kulit kurma, dua batu gilingan, sebuah bek air dari kulit, dan dua pot dari tanah ( sebagai mahar ). Ali r.a. suatu hari berkata kepada Fatimah r.anha : demi Allah ! oleh karena menarik timba dari sumur, saya merasa sakit pada dada saya. Allah telah menghantar bebearapa tawanana kepada ayahmu maka pergilah kepadnya dan mintalah seorang hamba sahaya. Fatimah r.anha berkata : tangan saya juga kulitnya menjadi tebal karena menggiling batu gilingan. Oleh karena itu ia pergi kepada Nabi SAW. Baginda bertanya : wahai putri kesayanganku, apa yang menyebabkan kamu datang kesini ? fatimah berkata : mengucapkan salam dan oleh karena rasa malunya ia tidak dapat menjelaskan kesulitannya dan ia kembali. Ali r.a. bertanya kepadanya apa yang terjadi ? fatimah berkata saya tidak dapat meminta hamba sahaya karena malu kemudian kami pergi bersama kepada Nabi SAW. Ali r.a. berkata : wahai Rasulullah ! oleh karena menimba air dari sumur saya merasa sakit pada dada saya; dan Fatimah r.anha berkata ; tangan-tangan saya kulitnya menebal karena menggiling batu gilingan. Allah telah menghantar kepadamu beberapa hamba sahaya dan memberi beberapa kemudahan ; maka berikanlah kepada kami seorang hamba sahaya. Rasulullah SAW bersabda demi Allah ! ahli-ahli sufah dalam keadaan yang mereka menderita sakit yang tiba-tiba, akan tetapi saya tidak mempunyai sesuatu untuk membelanjakan keatas mereka. oleh karena itu saya akan menjual hamba sahaya ini dan membelanjakan uang itu keatas ahli-ahli sufah. Mendengar jawabannya kami kembali. Pada malam hari berdua kami sedang tidur dalam sebuah selimut yang sangat kecil yang apabila kepala kami ditutup kaki-kaki kami telanjang; dan apabila kaki-kaki kami ditutupi maka kepala kami akan terbuka. Tiba-tiba rasulullah SAW datang kepada kami. Berdua kami bersegera bangun. Baginda berkata : tetaplah berbaring pada tempatmu ; kamu meminta seorang hamba sahaya, tidak sukakah kamu saya memberitahu kamu sesuatu yang lebih baik ? kami meminta : beritahukanlah kepada kami. Baginda berkata : Jibril a.s. telah mengajarkan kepada saya beberapa perkataan. Berdua kamu selepas setiap shalat,bacalah 10 kali Subhanallah (Maha Suci Allah ), 10 kali Alhamdulillah ( Segala Puji bagi Alah ), dan 10 kali Allahuakbar ( Allah Maha Besar ). Dan apabila kamu hendak berbaring maka bacalah 33 kali Subhanallah 33 kali Alhamdulillah dan 33 Allahuakbar. Ali r.a. berkata : demi Allah! Semenjak Rasulullah SAW mengajarkan kepada saya perkataan- perkataan ini, saya tidak pernah melupakan untuk membacanya. Ibnu kawa rahimahullah bertanya Ali r.a. apakah perkataan-perkataan ini tidak dilalaikan untuk mengucapkan, bahkan pada malam peperangan siffil ? ia berkata : wahai orang-orang Irak ! semoga Allah menghukum kamu ! saya tidak lalai mengucapkan perkatan-perkataan ini bahkan pada malam peperangan siffil ! ( Musnad Ahmad ).

29- عن عبد الله بن عمرو رضى الله عنهما قال : قال رسول الله  خصلتان لا يحصيهما رجل مسلم إلا دخل الجنة ، هما يسير ، ومن يعمل بهما قليل يسبح الله دبر كل صلاة عشرا ، ويحمده عشرا ، ويكبر عشرا قال : فأنا رأيت النبى  : يعقدها بيده ، قال : فقال خمسون ومائة باللسان ، وألف وخمسمائة فىالميزان ، وأذا أوى ألى فراشه سبح وحمد وكبر مائة ، فتلك ماءة باللسان ، وألف فىالميزان فأيكم يعمل فى اليوم الواحد ألفين وخمسمائة سيئة ، قال : كيف لا تخصيهما ؟ قال : ياتى أحدكم الشيطان ، وهو فى لصلاة، فيقول : اذكر كذا ، اذكر كذا ، حتى شغله ولعله أن لا يعقل ، ويأتيه فى مضجعه فلا يزال ينومه حتى ينام . رواه ابن حبان ، فال المحقق : حديث صحيح 5/354

29. Abdullah Ibnu Amr r.anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : dua kebiasaan adalah sedemikian yang jikalau seorang muslim memenuhinya ia akan memastikannya masuk sorga. Kedua kebiasaan ini adalah mudah, akan tetapi mereka yang mengamalkannya adalah sedikit. Satu adalah bahwa selepas setiap shalat membaca Subhanallah ( Maha Suci Allah ) 10 kali, Alhamdulillah ( Segala Puji bagi Allah ) 10 kali, dan Allahuakbar ( Allah maha Besar ) 10 kali. Abdullah berkata : saya melihat Nabi SAW menghitung diatas jari-jarinya dan membaca ( perkataan – perkataan ini 10 kali tiap-tiapnya, selepas shalat fardhu 5 kali ), yang berarti seratus lima puluh kali, akan tetapi dalam timbangan kebaikan ( karena dilipat sepuluh kali ganda ) jumlahnya menjadi 150.000. kali ganda. Kebiasaan yang kedua adalah sebelum pergi tidur maka seorang membaca Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahuakbar 100 kali ( dengan cara demikia ini ) Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahuakbar 34 kali dalam mengucapkan perkataan-perkataan ini hanya terdiri dari 100 perkataan, akan tetapi pahalanya adalah 1000 kebaikan ( sekarang sesudah satu hari penuh shalat lima kali sehari ) keseluruhan ganjarannya akan menjadi 2500 kebaikan. Rasulullah SAW bersabda: Siapakah yang boleh melakukan 2500 dosa dalam sehari ? ( dosa yang sebanyak ini tidak mungkin dilakukan, akan tetapi 2500 kebaikan ditulis baginya). Abdullah r.a. bertanya : Wahai Rasulullah ! mengapa hanya sedikit orang yang mengucapkan perkataan-perkataan ini ? Baginda menjawab : ( itu dikarenakan ) setan menyuntikkan dalam shalat, dan memasukkan berbagai-bagai keperluan dan bisikkan dalam pemikiran, dengan demikian seseorang menjadi lalai mengucapkan perkataan-perkataan ini. Dan ketika berbaring setan menina bobokkan seseorang dengan membenamkannya dalam berbagai pemikiran dan akhirnya seseorang jatuh tertidur tanpa mengucapkan perkataan-perkataan ini. ( Ibnu Hibban ).

30- عن معاذ بن جبا رضى الله عنه أن رسول الله  أحذ بيده وقال : يامعاذ ! والله إنى لأحبك ، فقال : أوصيك يامعاذ ! لا تدعن فى دبر كل صلاة تقول : اللهم ! أعنى على ذكرك وسكرك وحسن عبادتك . وراه أبو داود ، باب فى الإستغفار ، رقم 1522

30- -Muaz ibnu Jabal r.a. meriwayatkan : Rasulullah SAW menangkap tanganku dan bersabda : hai Muaz ! demi Allah aku mengasihi engkau kemudian Baginda berkata : Hai Muaz ! aku menasehatkan kamu supaya tidak pernah melupakan membaca kalimat berikut sesudah setiap waktu shalat.

اللهم ! أعنى على ذكرك وسكرك وحسن عبادتك

Artinya : Wahai Allah tolonglah aku dalam mengingati Engkau dan dalam mensyukuri Engkau dan dalam memperolehi kemuliaan dalam ibadat. ( HR.Abu Daud ).

31- عن أبى أمامة رضى الله عنه قال : قال رسول الله  من قرأ آية الكرسى فى دبر كل صلاة مكتوبة، لم يمنعه من دخول الجنة إلا أن يموت . رواه النسا نى فى عمل اليو م والليلة، رقم … 100، وفى رواية: وقل هوالله أحد. رواه الطبر نى فى الكبير والأوسط بأسانيد وا حد ها جيد، مجمع الزوائد10/ 128

31- Abu Umamah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : Jikalau seorang mengucapkan ayatul kursi selepas setiap shalat, tiada sesuatupun kecuali kematian yang akan menghalangnya dari memasuki sorga. Dalam riwayat yang lain disebutkan dengan menambah Qulhu wallahu ahad sesudah ayatul qursi.

32- عن حسن بن على رضى الله عنهما قال : قال رسو ل الله  : من قرا آيةالكرسى دبر الصلاة المكتوبة كان فى ذمة الله الصلاة الأخرى . رواه الطبرانى وإسناده حسن. مجم الزوائد. 10/128

32. Hasan Ibnu Ali r.anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : barangsiapa yang mengucapkan ayatul kursi selepas shalat fardhu, ia berada dalam perlindungan Allah sehingga shalat berikutnya. ( tabrani dan Majma Uz zawaid ).

33- عن أبى أيوب رضى الله عنه قال : ما صليت خلف نبيكم  إلا سمعته يقول حين ينصرف : اللهم اغفر خطاياى وذنوبى كلها، اللهم وانعشنى واجبر نى واهدنى لصالح الأعمال والأخلاق، لا يهدى لصالحها، ولا يصرف سيئها إلا أنت . رواه الطبرانى فى الصعغر والأوسط وإسناده جيد، مجمع الزوائد. 10/145

33. Abu Ayyub r.a. meriwayatkan : ketika saya mengerjakan shalat dibelakang Nabi SAW, saya mendengarnya membaca doa ini setelah menyelesaikan shalatnya.

االلهم اغفر خطاياى وذنوبى كلها، اللهم وانعشنى واخبر نى واهدنى لصالح الأعمال والأخلاق، لا يهدى لصالها، ولا يصرف سيئها إلا أنت

Artinya : Wahai Allah ampunilah segala kesalahan dan dosa-dosaku. Wahai Allah angkatlah daripadaku dan hapuslah kekurangan-kekuranganku dan anugerahkan aku dengan amal-amal kebaikan dan akhlak yang mulia, karena petunjuk bagi amal-amal baik dan akhlak yang mulia tidak dapat diberikan kecuali dengan Engkau, dan tiada seorangpun yang dapat menghapuskan amal-amal yang buruk dan akhlak yang buruk kecuali Engkau. ( tabrani dan majma Uz zawaid )

34- عن أبى موسى رضىالله عنه أن رسول الله  قال : من صلى البردين دخل الجنة. رواه البخارى، باب فضل صلوة الفجر، رقم : 574

34. Abu musa r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : barangsiapa yang mengerjakan dua shalat yang dingin akan memasuki sorga. ( HR.Bukhari ).

Catatan : Dua shalat yang dingin menunjuk kepada shalat ashar ( permulaan watu yang agak dingin dalam sehari ) dan Shalat fajar ( sesudah mana satu hari bermula agak panas). Fajar adalah juga suatu masa yang menguasai seseorang dengan mengantuk; sedangkan ashar adalah masa dimana seseorang dikuasai oleh berbagai oleh urusan dunia. Oleh karena itu barangsiapa yang istiqomah mengerjakan kedua shalat ini maka ia juga akan istiqamah dalam mengerjakan ketiga shalat lainnya. ( Mirqatul Mafatih )

35. Ruwaibah r.a. meriwayatkan : saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : tidaklah ia memasuki neraka, oarang yang mengerjakan shlat sebelum terbit matahari dan sebellum terbenamnya, itulaj shalat fajar dan shalat ashar. ( HR.Muslim ).

36. Abu Dzar r.a. eriwayatlkan bahwa : Rasulullah SAW bersabda : brangsiapa yang selepas shalat fajar ( sambil duduk dalam tashahud ) dan sebelum berbicara dengan orang lain mengucapkan 10 kali ……

لآإله إلاالله وحده لاشريك له، له الملك وله الحمد يحيى ويميت وهو على كل شىء قدير

artinya : Tiada yang patut disembah kecuali Allah, Dialah yang Esa Tiada sekutu baginya, bagi Nya yang memliki semua kerajaan, ialah yang memiliki segala kemuliaan, Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia yang memili kekuasaan atas segala sesuatu. Maka 10 kebaikan dicatat baginya, dan 10 dosa dihapuskan, dan kedudukannya dinaikkan 10 derajat, dan ia dilindungi dari segala peristiwa yang tidak diinginkan dan tidak menyenangkan sepanjang hari. Dan pada hari itu, ucapan ini juga akan menjadi penjaga baginya dari setan ; dan selain sirik, tiada dosa baginya yang akan membinasakannya. Diriwayatkan juga bahwa setiap masa ia membaca ucapan ini, ia mendapat pahala membebaskan seorang hamba sahaya. Ia mendapatkan satu ganjaran serupa karena membaca kalimah ini sesudah shalat ashar, kecuali bahwa ia menerima ganjaran bagi keseluruhan malam, demikian pula ia akan mendapat pahala keseluruhan hari apabila mengucapkan kalimah ini sesudah shalat fajar. Dalam trwayat yang lain perkataan biyadihilkhoir ( dalam genggaman tangannya terdapat dsegala yang baik ) diganti dengan Yuhyi wayumitu ( yang menghidyupkan dan yang mematikan ). ( HR.Tirmidzi ).

37- عن جندب القسرى رضى الله عنه قال : قال رسول الله  : من صلى صلاة الصبح فهو فى ذمة الله ، فلا يطلبنكم الله من ذمتة بشىء فإنه من يطلبه من ذمته بشىء يدركه، ثم يكبه على وجهه فى نار جهنم. رواه مسلم، باب فضل صلاة العشاء……..،رقم : 1494

37- Jundup Al qasri r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : barangsiapa mengerjakan shalat fajar sesungguhnya ia berada dalam perlindungan Allah ! oleh karena itu berhati – hatilah, janganlah menyusahkan orang-orang yang berada dalam perlindungan Allah, karena kamu boleh jadi dipersalahkan karena perbuatan itu. Karena sesungguhnya barangsiapa yang mencari ( pembalasan ) bagi orang yang Dia telah lindungi, Dia pasti akan mendekatinya kemudian mencampakkannya dengan segera dihadapannya kedalam neraka ! ( HR. Muslim ).

38- عن مسلم بن الحارث التميمى رضى الله عنه عن رسول الله  أنه أسر إليه فقال : إذا انصرفت من صلاة المغرب فقال : اللهم أجرنى من النار سبع مرات فإنك إذا قلت ذلك ثم مت فى ليليك كتب لك جوار منها، وإذا صليت الصبح فقل كذلك، فإنك إن مت فى يومك كتب لك جوار منها. رواه أبوداود، باب مايقول إذا إصبح، رقم : 5079

38. Muslim Ibnu Harist Attamimi ra.a meriwayatkan : Rasulullah SAW berkata kepada saya secara diam-diam apabila engkau menyelesaikan shalat maghrib, kemudian membaca doa ini tujuh kali : اللهم أجر نى من النارartinya: wahai Allah lindungilah aku daripada api neraka !

apabila engkau membaca ini dan jikalau engkau mati pada malam yang sama engkau akan dilindungi dari neraka. Dan jikalau doa ini diucapkan tujuh kali selepas shalat fajar, dan jikalau engkau mati pada hari yang sama, engkau akan dilindungi dari neraka. ( HR.Abu Daud ).

Catatan : Rasululah SAW memberikan nasehat ini secara diam-diam, supaya orang yang ditujukan dapat memberi perhatian karena kepentingannya.

39- عن أم فر وة رضى الله عنها قالت : سئل رسول الله : أى الأ عمال أفضل ؟ قال : الصلاة فى أول وقتها. رواه أبو داود، باب استحباب الوتر، رقم : 1416

39. Ummi farwah r.anha meriwayatkan Rasulullah SAW ditanya: amal baik yang manakah yang terbaik ? Baginda berkata : mendirikan shalat pada awal waktu yang ditetapkan. ( HR.Abu Daud ).

40- عن على رضى الله عنه قال : قال رسول الله  : ياأهل القرآن ! أوتروا فإن الله وتر يحب الوتر. رواه أبوداود، باب استحباب الوتر، رقم : 141

40. Ali r.a. meriwayatkan bahwa : ٌRasulullah SAW bersabda : wahai ahli-ahli qura’an! Kerjalanlah shalat witir, karena sesunguhnya Allah adalah witir dan Dia menyukai yang witir . ( HR.Abu daud )

Catatan : witir dalam bahasa arab bermakna “ satu “ atau suatu nomor ganjil. Allah menjadi witir bermakna ke Esaannya, tanpa ada serikat. Allah juga menyukai amalan-amalan yang dilakukan dalam nomor – nomor ganjil. Banyak contoh yang sama yang didapati dalam syariah dan sunnah. Demikian halnya dengan shalat witir. ( Majma bihar-ul-anwar ).

0 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.